Sunday, July 5, 2026
home_banner_first
SIANTAR SIMALUNGUN

Sejarah Panjang Gereja Pentakosta Indonesia, Berawal dari Gerakan Penginjilan Era Kolonial Belanda

Mistar.idMinggu, 5 Juli 2026 pukul 17.58 WIB
sejarah_panjang_gereja_pentakosta_indonesia_berawal_dari_gerakan_penginjilan_era_kolonial_belanda

Ketua Umum Majelis Pusat Gereja Pentakosta Indonesia (GPI) saat ini, Rev. Dr. M.H. Siburian. (foto:hamzah/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (5/7/2026) – Di tengah kuatnya arus kontrol pemerintah kolonial Belanda terhadap kehidupan sosial keagamaan pada dekade 1930-an, lahirlah sebuah gerakan penginjilan. Gerakan ini berjalan senyap, berpindah-pindah, dan terus berkembang hingga kini menjadi Gereja Pentakosta Indonesia (GPI).

Di balik perjalanan panjang itu, salah satu tokoh yang dikenang sebagai pendiri GPI yakni Rev. Pdt. Renatus Siburian. Ia memberitakan Injil dan memulai pelayanan pada 1936. Perjalanan itu juga diawali dengan mempelajari Alkitab di sebuah sekolah di Jalan Embong Malang, Surabaya. Dari sekolah tersebut lahirlah komitmen untuk memberitakan Injil di Nusantara.

Perjalanan Pdt. Renatus dimulai dari Berastagi, kemudian berlanjut ke Malaysia, sebelum kembali ke Medan dan diteruskan ke Kisaran. Di setiap tempat yang disinggahi, ia mengajarkan firman Tuhan kepada masyarakat dan memperkenalkan kehidupan kekristenan.

Hal itu dikisahkan Ketua Umum Majelis Pusat Gereja Pentakosta Indonesia (GPI), Rev. Dr. M.H. Siburian. Menurutnya, perjalanan kala itu tidaklah mudah karena pada masa kolonial Belanda gerak organisasi keagamaan dibatasi dan hanya beberapa gereja yang mendapat pengakuan.

"Dulunya gereja tidak mendapat dorongan secara legal karena pada masa penjajahan Belanda tahun 1936. Hanya ada tiga gereja yang diakui di masa penjajahan Belanda, Katholieke Kerk, Protestantsche Kerk, dan Pinkster Kerk," ujar Rev. Dr. M.H. Siburian ketika membuka Sidang Sinode Besar Gereja Pentakosta Indonesia pada 3 Juli 2026 di Gedung Rajawali, Jalan Asahan, Kabupaten Simalungun.

Lanjutnya, pada masa itu Pinkster Kerk telah mendapat izin bergerak dari pemerintah Belanda untuk melayani orang-orang Belanda dan Amerika, serta beberapa masyarakat lokal. Sementara itu, pendiri Gereja Pentakosta Indonesia (GPI) kala itu tidak memiliki legalitas apa pun.

"Dengan tidak memiliki izin apa pun, akhirnya bergerak dari rumah satu ke rumah yang lain. Dari satu penginjilan yang bersifat personal ke tempat lain. Sehingga pada waktu itu belum ada nama gereja. Gerakan ini tidak berhenti dan banyak mendukung untuk menerima ajaran gereja ini," ujarnya.

Gerakan tersebut kemudian berkembang ke berbagai wilayah di Tanah Batak. Salah satu titik awal berada di Parainan, Tapanuli Utara. Di wilayah ini pelayanan meluas disertai pelayanan baptisan kepada banyak umat baru. Tidak hanya di wilayah Tapanuli, pelayanan juga bergerak menuju Sumatera Timur.

"Maka dilakukan gerakan penginjilan yang bergerak secara sporadis di Tanah Batak. Gereja ini telah berganti nama beberapa kali. Yang pertama Pinkster Kerk Tapanuli, karena wilayah gerakannya berada di daerah Tapanuli," ujarnya lagi.

Tidak berhenti di wilayah Tapanuli, pelayanan ini terus bergerak ke Sumatera Timur. Saat itu gereja juga belum memiliki nama tetap. Kondisi tersebut kemudian mendorong dibentuknya nama gereja agar organisasi semakin tertata dengan baik.

"Dimulai dari Gereja Pinkster Kerk Tapanuli, kemudian berubah menjadi Gereja Pentakosta Tapanuli, dan pada tahun-tahun berikutnya diubah menjadi Pentakosta Sumatera Utara," ujarnya.

Dikatakannya, nama-nama tersebut kemudian menjadi dasar bagi para pengikut untuk mendirikan gereja secara mandiri. Selanjutnya, pada 1942 nama tersebut resmi diubah menjadi Gereja Pentakosta Indonesia (GPI). (hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN