Wednesday, July 8, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

Berawal dari Keresahan Polusi Mesin Diesel, Peneliti USU Lahirkan Inovasi Ramah Lingkungan

Mistar.idKamis, 23 April 2026 pukul 12.43 WIB
berawal_dari_keresahan_polusi_mesin_diesel_peneliti_usu_lahirkan_inovasi_ramah_lingkungan

Ilustrasi pengisian bahan bakar. (Foto: istimewa/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Keresahan terhadap citra mesin diesel yang identik dengan asap hitam dan polusi justru menjadi titik awal lahirnya inovasi dari peneliti Universitas Sumatera Utara (USU). Lewat riset berbasis bahan bakar ganda (dual-fuel) dan nano-additives, dua akademisi USU menghadirkan pendekatan baru yang berpotensi menjadikan mesin diesel lebih efisien sekaligus ramah lingkungan.

Penelitian yang dilakukan Prof. Tulus Burhanuddin Sitorus bersama Dr.Eng. Taufiq Bin Nur dari Program Studi Teknik Mesin Fakultas Teknik USU ini telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Applied Energy. Dalam riset tersebut, keduanya menggabungkan strategi bahan bakar ganda, penggunaan partikel nano, serta teknologi pembakaran canggih dalam satu pendekatan terpadu.

Tulus menjelaskan, penelitian ini tidak hanya berorientasi pada inovasi, tetapi juga mempertimbangkan realitas kebutuhan energi di negara berkembang.

“Selama ini banyak riset global berfokus pada satu jenis bahan bakar alternatif, seperti biodiesel, hidrogen, atau amonia. Tapi kami melihat, masa depan energi justru ada pada kombinasi cerdas dari berbagai sumber energi tersebut,” ujar Tulus dalam keterangan tertulisnya, Kamis (23/4/2026).

Hasil penelitian menunjukkan, campuran amonia dan hidrogen mampu meningkatkan efisiensi termal mesin hingga 42 persen dibandingkan penggunaan solar murni. Selain itu, kombinasi tersebut menghasilkan pembakaran yang lebih stabil dengan emisi karbon dioksida yang sangat rendah.

Sementara itu, penggunaan biodiesel dengan desain injektor elips memberikan tambahan efisiensi sebesar 15 persen, dan metanol dalam sistem bahan bakar ganda meningkatkan efisiensi hingga 12 persen.

Di sisi lain, Taufiq mengakui bahwa setiap jenis bahan bakar tetap memiliki tantangan tersendiri. Ia menjelaskan bahwa biodiesel memang mampu menekan emisi karbon monoksida dan partikel, tetapi berpotensi meningkatkan nitrogen oksida akibat suhu pembakaran yang lebih tinggi.

Begitu pula dengan alkohol seperti etanol dan metanol yang memiliki efek pendinginan, namun cenderung mengalami keterlambatan penyalaan. Sementara hidrogen dinilai sangat bersih dari sisi emisi, tetapi memiliki tingkat reaktivitas tinggi yang sulit dikendalikan.

Menurutnya, keunggulan penelitian ini terletak pada upaya menggabungkan berbagai karakter bahan bakar tersebut agar saling melengkapi. Pendekatan ini memungkinkan terciptanya sistem pembakaran yang lebih efisien tanpa harus bergantung pada satu jenis bahan bakar saja.

Selain strategi bahan bakar, inovasi lain yang menjadi kunci adalah penggunaan partikel nano seperti aluminium oksida (Al2O3) dan cerium oksida (CeO2). Partikel ini berfungsi sebagai katalis mikro yang mampu meningkatkan proses atomisasi bahan bakar, sehingga pembakaran menjadi lebih sempurna. Dampaknya, emisi karbon monoksida dan hidrokarbon dapat ditekan lebih dari 20 persen, sekaligus meningkatkan efisiensi termal mesin secara signifikan.

Halaman:


BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN