Thursday, July 9, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

Ariel Bulan Uranus Diduga Pernah Memiliki Samudra Cair Raksasa

Mistar.idSabtu, 4 Oktober 2025 pukul 07.00 WIB
ariel_bulan_uranus_diduga_pernah_memiliki_samudra_cair_raksasa

Planet Uranus. (foto:istockphoto/mistar)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID

Penelitian terbaru menemukan bukti kuat bahwa Ariel, salah satu bulan Uranus, kemungkinan besar pernah memiliki samudra cair raksasa di bawah permukaannya.

Temuan ini memperkuat dugaan bahwa beberapa bulan Uranus, yang termasuk planet es raksasa, memiliki samudra tersembunyi yang berpotensi mendukung kondisi layak huni.

Tim peneliti yang dipimpin Caleb Strom dari University of North Dakota memodelkan struktur dalam Ariel. Hasilnya menunjukkan lapisan air cair setebal lebih dari 170 kilometer kemungkinan pernah berada di bawah kerak es. Permukaan terang Ariel yang dipenuhi retakan dan dataran halus juga menunjukkan aktivitas cryo volcanism, atau letusan es, yang dipicu oleh samudra bawah tanah.

"Ariel cukup unik di antara bulan-bulan es," kata ilmuwan senior di Planetary Science Institute Arizona, Alex Patthoff, dikutip dari Space.com, Jumat (/10/2025). Ia menegaskan, pola retakan pada permukaan Ariel hanya bisa terbentuk jika kerak es menutupi cairan di bawahnya.

Pemodelan komputer juga memperkirakan Titania, Oberon, dan Umbriel memiliki kondisi serupa, sedangkan Miranda kemungkinan kehilangan panas terlalu cepat untuk mempertahankan samudra cair. Temuan ini menambah bukti bahwa sistem Uranus mungkin menyimpan lebih dari satu dunia samudra.

Faktor panas internal dari peluruhan radioaktif dan keberadaan senyawa seperti amonia serta garam disebut berperan menjaga air cair tetap bertahan di bawah permukaan Ariel. Kondisi ini menjadikannya kandidat utama untuk penelitian astrobiologi karena kombinasi air, energi panas, dan interaksi kimia dengan batuan berpotensi menciptakan lingkungan yang mendukung kehidupan.

NASA sendiri telah menempatkan misi Uranus Orbiter and Probe sebagai prioritas utama eksplorasi periode 2023–2032. Misi tersebut dirancang untuk mengorbit Uranus selama lima tahun, menurunkan wahana atmosfer, serta memetakan cincin dan bulan-bulannya.

Dengan bukti baru ini, Ariel membuka jalan untuk memahami lebih jauh komposisi kimia samudra bawah permukaan bulan es serta peluang habitabilitas di Tata Surya luar. (**/hm16)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN