Soal Matematika TKA SMP Dianggap Sulit, Kemendikdasmen Angkat Bicara

Ilustrasi Soal TKA Matematik. (Foto: Luka Savcic/Unsplash)
Jakarta, MISTAR.ID
Siswa mengeluhkan sulitnya soal matematika selama pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMP/MTs.
Menanggapi masalah ini, Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikdasmen, Toni Toharudin, membenarkan adanya keluhan tersebut.
“Selama di lapangan banyak siswa yang mengeluhkan tentang soal TKA yang sulit, terutama dari pelajaran matematika dan kami memang sangat memahami sebagian siswa menyampaikan hal tersebut,” ujarnya, dilansir dari detikcom, Rabu (8/4/2026).
Toni menjelaskan, TKA tidak dirancang sekadar untuk menguji hafalan, melainkan untuk mengukur kemampuan berpikir dan penalaran siswa. Ia menegaskan bahwa soal yang diberikan bukan untuk menjebak peserta.
“Saya kira soal TKA ini tidak dibuat untuk menjebak, tetapi untuk mengungkap bagaimana kemampuan berpikir siswa yang lebih mendalam,” tuturnya.
Baca Juga: Kemendikdasmen Fokus Pendidikan Bermutu 2026, Kompetensi Guru dan Anti-Bullying Jadi Prioritas
Menurutnya, soal-soal tersebut telah melalui proses akademis sebelum diujikan, meskipun keluhan dari siswa tetap kerap muncul dalam setiap pelaksanaan asesmen.
“Jadi secara teori kami sudah melalui proses-proses yang akademis, menguji soal itu dan lain-lain dan pada akhirnya memang selalu terjadi keluhan seperti itu,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen, Rahmawati, turut menjelaskan bahwa ada tiga indikator utama dalam penilaian matematika TKA, yakni pengetahuan, penerapan, dan penalaran yang dikaitkan dengan situasi nyata.
Ia menilai siswa mungkin merasa kesulitan karena konteks soal yang diberikan kurang familiar, meski materi dasarnya sudah diajarkan di kelas.
“Misalnya kalau aljabar, itu persamaan dua variabel, itu memang sudah diajarkan di kelas. Tetapi persamaan dua variabel ini penerapannya di dunia nyata itu banyak. Jadi misalnya bagaimana menentukan berapa harga dari kombinasi dua barang, itu adalah persamaan dua variabel,” ujarnya.
Rahmawati menekankan pentingnya membiasakan siswa menggunakan konsep matematika dalam berbagai konteks kehidupan sehari-hari agar tidak terkejut saat menghadapi soal ujian.
Ia juga menjelaskan bahwa perbedaan antara soal simulasi dan ujian terletak pada konteks permasalahan, bukan pada konsep yang diujikan.
“Dan seperti katakan Pak Menteri, nggak mungkin juga soal yang sudah ada di simulasi kok diujikan lagi di ujian hari H, itu kan namanya cuma mengingat kembali soal gitu ya,” ujarnya.
Meski demikian, ia tetap memaklumi jika banyak siswa merasa soal matematika TKA sulit dan berharap ke depan pembelajaran dapat lebih menekankan pada penerapan konsep, bukan sekadar pemahaman teori.
“Tapi kami sangat memaklumi hal ini, harapannya ini menjadi membiasakan anak-anak, tidak hanya sekedar belajar konsep matematika, tetapi juga menyadari pada konteks apa saja, pada masalah apa saja, soal-soal atau konsep-konsep matematika ini bisa diterapkan,” tuturnya. (hm20)






















