CIMPA, Metode Belajar Lima Tahap yang Tak Bergantung Teknologi

Volunteer bersama anak-anak Rumah Baca Pelita Bangsa di Kecamatan Panei, Simalungun, saat memperkenalkan metode pembelajaran CIMPA.(Foto: Dok. Rumah Baca Pelita Bangsa/Mistar)
Simalungun, MISTAR.ID – Rumah Baca Pelita Bangsa di Kecamatan Panei, Kabupaten Simalungun, mencoba menghadirkan cara belajar yang tidak bergantung pada gadget maupun perangkat digital. Salah satunya melalui penerapan metode CIMPA yang mengajak anak belajar melalui lima tahapan.
CIMPA merupakan singkatan dari Collaborate, Investigate, Map, Present dan Appreciate. Metode tersebut diperkenalkan dalam pelatihan Pembelajaran Bermakna Tanpa Gadget yang digelar Rumah Baca Pelita Bangsa pada Sabtu (29/8/2026).
Pelatihan diikuti peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari guru, mahasiswa hingga anak-anak Rumah Baca Pelita Bangsa. Para peserta tidak hanya menerima pemaparan materi, tetapi juga menjalankan langsung tahapan pembelajaran yang diperkenalkan.
Founder Rumah Baca Pelita Bangsa, Frans Sipayung, mengatakan metode tersebut diperkenalkan agar volunteer memiliki cara lain dalam mendampingi anak-anak belajar.
"Kegiatannya dilaksanakan Sabtu kemarin. Peserta lebih dahulu diajak berkolaborasi membangun gagasan. Kemudian menginvestasi informasi dan permasalahan, memetakan hasil pemikiran, dan mempresentasikan hasilnya," kata Frans saat dikonfirmasi, Senin (31/8/2026).
Pemateri, Agi Julianto Martuah Purba, menyebutkan lima tahapan dalam CIMPA, yakni Collaborate, Investigate, Map, Present dan Appreciate.
Dalam praktiknya, peserta juga membuat mind mapping menggunakan kertas dan alat tulis. Hasil diskusi dituangkan ke dalam bentuk pemetaan untuk menghubungkan berbagai gagasan yang muncul.
Menurut Agi, proses tersebut tidak hanya membuat peserta berhenti pada tahap mencari informasi. Mereka juga diajak memilah, menghubungkan, dan mengolah informasi hingga menjadi sebuah pemikiran.
Metode tersebut dinilai sesuai diterapkan di Rumah Baca Pelita Bangsa karena proses belajar tidak selalu membutuhkan telepon seluler, komputer maupun perangkat digital lainnya.
Lingkungan sekitar, kertas, alat tulis, dan pengalaman anak dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran. Hal yang penting, kegiatan disusun dengan tujuan yang jelas.
Frans mengatakan volunteer juga perlu terus belajar agar memiliki kemampuan dalam mendampingi anak-anak. Menurutnya, kemauan saja tidak cukup untuk menjalankan peran sebagai pendamping belajar.
Ia menyebut salah satu perhatian Rumah Baca Pelita Bangsa adalah kebiasaan anak yang semakin dekat dengan gadget. Karena itu, kegiatan belajar di rumah baca diharapkan dapat memberikan pengalaman yang berbeda.
"Metode pembelajaran seperti ini perlu lebih diterapkan di Rumah Baca agar menghadirkan dan menguatkan pandangan bahwa pembelajaran bisa sejajar bahkan lebih dalam hal menyenangkan daripada gadget yang digunakan sepanjang waktu," ujarnya.
Frans menambahkan, anak-anak tetap dapat menikmati proses belajar tanpa harus memegang gadget. Mereka bisa diajak berdiskusi, bergerak, menggambar, menyusun gagasan hingga menyampaikan pendapat.
"Cara sederhana itu yang ingin terus dicoba di Rumah Baca Pelita Bangsa," ucapnya.[]


















