Sunday, June 21, 2026
home_banner_first
OPINI

Tenggelamnya Otoritas Wasit di Bawah Bayang-Bayang VAR

Mistar.idSelasa, 28 April 2026 pukul 09.59 WIB
EH
tenggelamnya_otoritas_wasit_di_bawah_bayangbayang_var

Keberadaan VAR dinilai menggerus kewibawaan dan otoritas wasit dalam pertandingan sepak bola. (Foto: AI/Mistar)

news_banner

Oleh: Anwar Suheri Pane

Sepak bola dulu adalah drama di lapangan selama 90 menit, yang hidup dari keputusan manusia. Setiap gol langsung memicu keriuhan. Kini, ketika bola melesak ke jaring, mata penonton justru tertuju pada wasit yang menunggu konfirmasi dari ruang sunyi bernama VAR. Sepak bola perlahan berubah menjadi birokrasi digital yang dingin.

VAR diperkenalkan sebagai penjaga keadilan. Namun, alih-alih memperkuat otoritas wasit, teknologi ini justru menggerus keberanian mereka. Wasit kini tampak ragu, seolah keputusan di lapangan bukan lagi sepenuhnya milik mereka.

Lebih jauh lagi, kehadiran VAR mulai mengikis ketajaman insting. Ada kecenderungan wasit tidak lagi merasa terdesak untuk akurat dalam momen krusial karena merasa memiliki “jaring pengaman”.

Dampaknya kini terasa jelas. Ketika ketegasan bergeser menjadi ketergantungan, yang hilang bukan sekadar keputusan, melainkan kualitas kepemimpinan. Permainan pun kehilangan ritme. Proses verifikasi yang berlarut menghentikan emosi penonton; gol yang semestinya menjadi puncak euforia berubah menjadi jeda yang canggung—dan kerap berujung kekecewaan kolektif.

Meski demikian, otoritas wasit belum sepenuhnya hilang. Dalam beberapa kasus, masih ada wasit yang memilih mempertahankan keputusan di lapangan dan menolak intervensi VAR untuk insiden-insiden minor.

Tidak dipungkiri, VAR membantu mengurangi kesalahan fatal. Namun obsesinya pada presisi absolut—hingga level milimeter—membawa sepak bola menjauh dari esensinya.

Sepak bola bukan laboratorium. Alternatif seperti tambahan asisten wasit di sekitar gawang mungkin tidak sempurna, tetapi tetap menjaga sentuhan manusia dalam pengambilan keputusan—sesuatu yang kini semakin terkikis.

Di tengah perdebatan itu, sepak bola Italia kembali disorot. Isu integritas perwasitan kembali mengemuka, salah satunya melalui dugaan keterlibatan Gianluca Rocchi dalam memengaruhi keputusan VAR pada laga Udinese kontra Parma. Laporan menyebut adanya intervensi terhadap ruang VAR yang memicu perubahan keputusan penalti, meski belum ada kejelasan resmi.

Dalam bayang-bayang sejarah kelam seperti Calciopoli scandal, isu semacam ini dengan cepat meruntuhkan kepercayaan publik.

VAR, yang seharusnya menjadi alat bantu objektif, kini dipersepsikan sebagai ruang kontrol tertutup yang rentan terhadap intervensi. Jika keputusan di lapangan dapat berubah karena tekanan dari balik layar, maka wasit bukan lagi hakim berdaulat, melainkan bagian dari sistem yang arah keputusannya bisa ditentukan dari luar.

Isu penunjukan wasit berdasarkan preferensi tertentu pun ikut mencuat. Jika benar, maka sportivitas telah berubah menjadi komoditas. Dalam kondisi ini, setiap trofi akan selalu dibayangi tanda tanya besar. Kepercayaan publik, sekali retak, jauh lebih sulit diperbaiki daripada sekadar memperbaiki garis offside.

Reaksi keras dari pelatih seperti Pep Guardiola dan Mikel Arteta menegaskan bahwa persoalannya bukan semata hasil akhir, melainkan pergeseran makna otoritas. Sepak bola tidak membutuhkan teknologi yang menghilangkan nyali manusia. Yang dibutuhkan adalah wasit yang tegas, regulasi yang jelas, dan permainan yang tetap hidup tanpa harus bergantung pada layar.

Sebab pada akhirnya, kemenangan paling bermakna lahir dari sportivitas yang murni—bukan dari garis tipis yang ditarik oleh piksel. (*)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN