Ketika Hate Speech Jadi Budaya: Apa Kata Etika Komunikasi Islam?

Windari Syntia. (Foto: Istimewa/Mistar)
Oleh: Windari Syntia
Dalam beberapa tahun terakhir, percakapan publik di media sosial terasa kian memanas. Kolom komentar yang seharusnya menjadi tempat berbagi pendapat, kini sering berubah menjadi ruang yang dipenuhi kata-kata kasar, sindiran, bahkan serangan secara personal. Orang dengan mudahnya menuliskan komentar pedas tanpa memikirkan dampak yang akan muncul. Perlahan-lahan, ujaran kebencian seperti menjadi bagian dari kebiasaan baru dalam budaya digital kita. Di tengah suasana seperti ini, menarik rasanya untuk kembali melihat apa yang sebenarnya Islam ajarkan dalam cara berbicara dan menyampaikan pendapat.
Kalau diperhatikan, pola interaksi masyarakat di media sosial kini semakin berubah. Banyak orang yang memberi komentar tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu etika serta dampak yang ada. Sehingga perbedaan pendapat yang sebenarnya adalah hal yang wajar, sewaktu-waktu mampu berubah menjadi perdebatan kata yang penuh tudingan, sindiran pedas, umpatan, dan sebagainya. Situasi yang seperti inilah yang akhirnya membuat gaya komunikasi tidak sehat dan menjadi suatu hal yang lumrah di ruang digital, meskipun jelas tidak sejalan dengan nilai-nilai sopan santun yang seharusnya dijunjung.
Padahal, dalam pandangan Islam sendiri, perkataan bukanlah sekadar alat untuk menyampaikan isi hati dan pikiran, tetapi bagian dari akhlak yang harus dijaga. Karena itu, Al-Qur’an memberikan kita bimbingan yang cukup jelas tentang bagaimana seharusnya seorang Muslim berbicara. Ada konsep qaulan sadidan, yakni perkataan yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan; qaulan kariman, yang menuntut kita menghormati lawan bicara; dan qaulan layyinan, yaitu ucapan yang lembut meskipun ditujukan kepada pihak yang menentang.
Jika ketiga pedoman ini kita bandingkan dengan kondisi percakapan digital saat ini, terlihat perbedaan yang cukup jauh jaraknya. Tidak sedikit orang yang merasa bahwa selama apa yang disampaikannya itu “benar”, maka cara penyampaiannya tidak lagi begitu penting. Padahal, Islam sudah secara jelas mengajarkan bahwa kebenaran dan adab tidak dapat dipisahkan. Artinya, cara berbicara yang tampak merendahkan tetap dianggap keliru meskipun apa yang ia sampaikan itu sebenarnya adalah suatu kebenaran.
Di sisi lain, platform media sosial sendiri seolah turut membentuk bagaimana cara khalayak berinteraksi. Ini dikarenakan algoritma lebih memprioritaskan konten yang memicu emosi kuat seperti marah, kecewa, atau merasa tersinggung. Akibatnya, gaya bicara yang pedas dan menyulut respons cepat justru lebih sering muncul di beranda pengguna. Perlahan-lahan, masyarakat merasa bahwa berbicara dengan nada tajam adalah sesuatu yang wajar. Dan tanpa disadari, kita seperti mengikuti pola komunikasi yang dibentuk oleh sistem itu sendiri, sehingga mengabaikan nilai-nilai yang sudah sepatutnya dilakukan.
Dalam keadaan seperti ini, etika komunikasi Islam sebenarnya menawarkan ruang untuk kita agar lebih bisa menyeimbangkan sesuatu yang ada. Islam tidak melarang adanya kritikan. Bahkan Islam sendiri mendorong umatnya untuk menyampaikan kebenaran dan saling menasehati satu sama lain. Namun yang harus kita lakukan sebagai umat Muslim adalah mengkritik dengan cara yang baik dan tidak menjatuhkan harga diri seseorang. Ketegasan tidak harus dibarengi dengan kekerasan kata, dan perbedaan pandangan pun tidak seharusnya berubah menjadi sebuah perpecahan.
Kita perlu menyadari bahwa maraknya ujaran kebencian saat ini tentu tidak terjadi dengan sendirinya. Adanya faktor sosial, polarisasi politik yang tajam, isu identitas yang sering dimainkan, dan minimnya budaya berdialog secara tenang, bisa saja turut menyuburkan hal tersebut. Masyarakat kadang terbiasa membelah diri ke dalam kelompok-kelompok, sehingga kata-kata yang dilontarkan seringnya dilakukan sebagai bentuk loyalitas terhadap kelompok tertentu tanpa memilah dan memilih terlebih dahulu apa yang seharusnya disampaikan. Dalam kondisi seperti ini, biasanya suara yang mengajak kepada ketenangan sering kali tenggelam dan diabaikan.
Etika komunikasi Islam hadir untuk mengingatkan kita bahwa menjaga ucapan adalah bagian dari menjaga keutuhan sosial. Sikap saling menghormati tentunya tidak menghalangi adanya kritik, justru membuat kritik lebih bisa diterima dan didengar. Mengingatkan tanpa merendahkan, menegur tanpa mempermalukan, serta berbeda tanpa perlu bermusuhan pun akan menjadi hal yang jauh lebih berdampak dibandingkan dengan perdebatan panjang tanpa ujung. Hal-hal seperti itulah yang sebenarnya menjadi inti daripada akhlak dalam berbicara.
Pada akhirnya, di tengah derasnya arus ujaran kebencian yang saat ini merebak, sikap sederhana seperti menahan diri sebelum menuliskan komentar merupakan salah satu langkah penting. Memikirkan dampak yang akan muncul, memilih kata yang lebih santun, dan saling menghormati adalah langkah awal menuju masyarakat cerdas berdigital. Media sosial memang tidak bisa kita kendalikan, tetapi cara kita bersikap dan menjaga ketikan tentunya bisa menjadi pilihan. (**)
Penulis adalah mahasiswa UIN Sumatera Utara**
PREVIOUS ARTICLE
Opini: Dampak Ekonomi Bencana Sumatera






















