Indonesia Jadi Negara Kedua dengan Kontaminasi Mikroplastik Tertinggi


Plastik di laut. (f: ist/mistar)
Jakarta, MISTAR.ID
Indonesia menempati peringkat kedua setelah China untuk tingkat kontaminasi mikroplastik tertinggi di dunia.
Pakar Ekotoksikologi Perairan dari IPB University, Prof. Etty Riani mengungkapkan bahwa hampir seluruh perairan di Indonesia telah tercemar mikroplastik dan nanoplastik.
"Dari hasil penelitian-penelitian kami, hampir seluruh perairan di Indonesia sudah terkontaminasi mikroplastik, bahkan nanoplastik," ujar Prof. Etty dalam keterangan tertulis IPB University, Selasa (25/2/2025), dilansir dari detikedu.
Wilayah pesisir dengan kepadatan penduduk tinggi, seperti Teluk Jakarta, memiliki tingkat kontaminasi lebih parah. Prof. Etty aktif meneliti pencemaran lingkungan, mikroplastik, serta dampak toksik bahan berbahaya terhadap ekosistem perairan dan biota.
Beberapa penelitiannya mencakup studi mikroplastik pada teripang pasir, keamanan pangan biota laut, serta uji toksisitas tailing pertambangan terhadap organisme akuatik.
Baca Juga: Mikroplastik Ditemukan di Air Awan
Mikroplastik berasal dari degradasi produk sehari-hari seperti pakaian, kemasan makanan dan minuman, perabot rumah tangga, kantong plastik, hingga produk perawatan pribadi. Seiring waktu, sampah plastik ini terurai menjadi partikel kecil yang akhirnya menjadi mikroplastik dan nanoplastik.
Menurut Prof. Etty, selama proses ini, bahan aditif beracun dalam plastik dapat terlepas ke lingkungan, membahayakan biota perairan dan manusia melalui rantai makanan.
Selain itu, mikroplastik dapat menjadi media pembawa zat beracun yang masuk ke tubuh makhluk hidup, termasuk manusia.
Perilaku masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan memperparah kontaminasi. Sungai yang bermuara ke laut menjadi jalur utama sampah plastik. Bobotnya yang ringan membuatnya mudah terbawa angin dan arus, mempercepat penyebaran di perairan dan atmosfer.
Prof. Etty menekankan pentingnya penelitian lanjutan dengan dukungan laboratorium berstandar tinggi.
"Data yang akurat diperlukan untuk memahami tingkat kontaminasi ini," ujarnya.
Meski demikian, ia menjelaskan bahwa mikroplastik belum dapat dikategorikan sebagai pencemar karena belum ada standar baku mutu.
"Pencemaran terjadi jika melewati baku mutu yang ditetapkan. Namun, hingga saat ini, baik Indonesia maupun negara maju lainnya belum memiliki standar baku mutu untuk mikroplastik di perairan atau media lainnya," tutur Prof. Etty.
Saat ini, baku mutu di Indonesia masih diadaptasi dari negara lain. Untuk menetapkan standar sendiri, diperlukan uji toksikologi panjang, termasuk pengujian terhadap biota di berbagai fase hidupnya sesuai dengan lingkungan perairan yang akan diuji.
"Mengingat belum ada satu pun negara yang memiliki baku mutu untuk mikro atau nanoplastik, kita hanya bisa menyebutnya sebagai kontaminasi, bukan pencemaran," ucapnya. (detik/hm20)