Saturday, September 5, 2026
home_banner_first
NASIONAL

Ahli Vulkanologi Angkat Bicara Soal Suara Dentuman di Bandung

Mistar.idSabtu, 5 September 2026 pukul 15.09 WIB
ahli_vulkanologi_angkat_bicara_soal_suara_dentuman_di_bandung

Ilustrasi. (Foto: Detik.com)

news_banner

Uniknya, semakin jauh dari sumber bukan berarti suara pasti semakin menghilang.

"Lalu muncul fenomena yang lebih menarik. Semakin jauh dari sumber, suara tidak selalu semakin hilang. Sebagian energi suara yang merambat di atas shadow zone dapat mengalami scattering akibat turbulensi atmosfer dan, dalam kondisi tertentu, difraksi. Energi tersebut kemudian dapat 'tersebar' kembali ke wilayah bayangan suara," ungkapnya.

Artinya, suara yang tidak terdengar di suatu daerah yang lebih dekat dengan sumber justru dapat kembali terdengar di wilayah yang lebih jauh.

"Secara sederhana, bukan berarti suara dari Krakatau (?) atau sumber lainnya berhenti merambat. Atmosfer dapat mengubah jalur rambatnya. Ada wilayah yang menjadi 'bayangan suara', sementara di tempat yang lebih jauh sebagian energi suara dapat kembali masuk melalui proses scattering dan difraksi atmosfer," jelasnya.

Mirzam mengatakan fenomena tersebut dapat menjadi salah satu hipotesis untuk menjelaskan dentuman yang terdengar di Bandung dan sejumlah wilayah Jawa Barat. Namun, belum ada bukti yang cukup untuk menyimpulkan bahwa Anak Krakatau merupakan sumbernya.

Untuk menjawabnya, sambung Mirzam, diperlukan kajian lebih mendalam. Peneliti perlu mencocokkan korelasi waktu erupsi dengan waktu kedatangan suara, kondisi atmosfer saat kejadian, karakteristik sinyal suara, serta data dari berbagai lokasi di Jawa bagian barat.

Dengan data tersebut barulah dapat diketahui apakah aktivitas Anak Krakatau memang memiliki hubungan dengan suara yang menggegerkan warga.

"Jadi, dentuman semalam masih menjadi sebuah pertanyaan menarik -- bukan sebuah kesimpulan. Kajian lebih mendalam tentu perlu kita lakukan," tutup Mirzam. (detik)

Halaman:


BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN