Semangat Bertahan Ojol Medan di Tengah “Anyep”-nya Orderan Lebaran 2026

Sejumlah pengemudi Ojol sedang menanti orderan di depan Plaza Medan Fair, Jalan Gatot Subroto Medan. (Foto: Ari/Mistar)
Medan, MISTAR.ID
Suasana Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah yang identik dengan kebersamaan dan silaturahmi ternyata menyisakan cerita berbeda bagi para pengemudi ojek online (ojol) di Kota Medan. Di tengah hangatnya momen Lebaran, para pengemudi justru menghadapi realitas menurunnya pendapatan akibat sepinya orderan.
Pantauan di sejumlah titik keramaian, seperti Sun Plaza Medan di Jalan Zainul Arifin dan Plaza Medan Fair di Jalan Gatot Subroto, menunjukkan aktivitas penumpang ojek online roda dua jauh berkurang dibanding hari biasa. Kondisi ini dipengaruhi oleh pola mobilitas masyarakat yang berubah selama Lebaran.
Salah seorang pengemudi, Andi, mengaku telah merasakan penurunan tersebut sejak hari pertama Lebaran. Menurutnya, masyarakat kini lebih memilih menggunakan kendaraan roda empat atau menghabiskan waktu di rumah bersama keluarga.
“Kalau suasana Lebaran begini, penumpang sunyi, bang. Orang lebih pilih taksi online atau mobil pribadi, apalagi banyak yang keliling silaturahmi. Kantor dan sekolah juga masih libur,” ujarnya, Senin (23/3/2026).
Ia menyebut istilah “anyep” sebagai gambaran kondisi sepinya orderan di kalangan sesama pengemudi. Jika pada hari normal ia mampu meraih sekitar Rp150.000 bersih, kini pendapatannya turun drastis.
“Semalam cuma dapat Rp70.000 bersih. Sudah dipakai isi minyak, makan, dan rokok. Jauh kali bedanya, tapi tetap harus disyukuri,” katanya.
Meski dihadapkan pada situasi sulit, Andi tetap memilih turun ke jalan. Baginya, kebutuhan ekonomi keluarga menjadi alasan utama untuk terus bekerja, bahkan di tengah suasana Lebaran.
“Lebaran pertama saya libur, mulai semalam saya narik. Mau gimana lagi, kebutuhan di rumah banyak. Jadi harus tetap kerja keras,” ungkap pria yang memiliki tiga anak tersebut.
Di sisi lain, pengemudi lain bernama Taufik mencoba beradaptasi dengan kondisi yang ada. Ia tidak hanya mengandalkan layanan antar penumpang, tetapi juga memaksimalkan fitur pengantaran makanan dan barang.
“Kalau cuma berharap penumpang memang berat. Jadi saya aktifkan juga order makanan dan barang. Alhamdulillah, kalau konsisten tetap ada rezeki,” ujarnya.
Dengan strategi tersebut, Taufik mengaku masih mampu memperoleh pendapatan hingga Rp140.000 dalam sehari, meski harus bekerja lebih lama dari biasanya.
Ia menilai bahwa Lebaran bukan semata tentang kemeriahan, tetapi juga tentang kesabaran dan keikhlasan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.
“Kondisi ini jadi pengingat ajasih, di setiap kesulitan selalu ada harapan, dan rezeki akan tetap mengalir bagi kita yang terus berusaha tanpa menyerah, bang,” ucapnya saat ditanya MISTAR.
Fenomena tersebut menggambarkan bahwa kondisi Lebaran tidak hanya memengaruhi tradisi dan mobilitas masyarakat, tetapi juga berdampak langsung pada roda ekonomi sektor informal. Namun di balik penurunan pendapatan, tersimpan kisah tentang ketekunan, daya juang, dan kemampuan beradaptasi. (hm27)






















