Monday, June 29, 2026
home_banner_first
MEDAN

Rico Waas: Banjir 2025 Jadi yang Terparah Sepanjang Sejarah Kota Medan

Mistar.idSenin, 29 Juni 2026 pukul 10.10 WIB
rico_waas_banjir_2025_jadi_yang_terparah_sepanjang_sejarah_kota_medan

Wali Kota Medan Rico Waas bersama Wamendagri Bimo Arya saat menjadi narasumber dalam pembahasan ketangguhan kota di Rakernas APEKSI. (Foto: Diskominfo Medan/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID – Banjir hebat yang melanda Kota Medan pada tanggal 27 November 2025 menjadi paparan yang disampaikan Wali Kota Medan, Rico Waas dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) di Hotel Le Polonia, Minggu (28/6/2026).

Politisi NasDem ini menyebut, hujan yang tak kunjung berhenti membuat 19 dari 21 kecamatan di Kota Medan terendam banjir.

“Sepanjang sejarah, banjir tahun lalu menjadi yang terburuk di Kota Medan. Semua penanganan harus dilakukan secara cepat. Makanya saya langsung mengumpulkan Forkopimda Kota Medan untuk segera memetakan lokasi dan menyelamatkan masyarakat yang terdampak,” katanya dalam momen Sharing Session Youth City Changers (YCC) APEKSI 2026.

Tak sekadar respon cepat, kata Rico, proses evakuasi juga mengalami kendala lantaran masih banyak masyarakat yang memilih bertahan di rumahnya masing-masing.

“Sangat banyak kendala yang terjadi di lapangan. Tentunya semua itu menjadi bahan evaluasi kami untuk memperkuat Standar Operasional Prosedur (SOP) kebencanaan sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat,” katanya.

Dijelaskannya, setelah berhasil menangani banjir, permasalahan baru muncul, yakni volume sampah yang meningkat drastis.

“Hampir di setiap wilayah ada tumpukan sampah dalam volume yang besar. Alhamdulillah, komunikasi dengan Forkopimda berjalan baik sehingga pemulihan bisa cepat dilakukan. Begitu juga dengan kolaborasi dengan relawan hingga masyarakat,” ujarnya.

Sebelumnya Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Bima Arya Sugiarto, mengatakan bahwa ada lima hal yang harus diperhatikan dalam menuju ketangguhan kota, yakni sistem, kebersamaan, kepemimpinan, komunikasi dan data.

“Kota yang sistemnya kuat akan pulih lebih cepat. Tapi kota dengan sistem lemah akan lebih lama bangkit. Bencana itu menguji kualitas kepemimpinan. Dalam situasi krisis, masyarakat membutuhkan pemimpin yang hadir langsung di lapangan, bukan sekadar memberi instruksi dari balik meja. Saya harap lebih aktif menggandeng para ahli kebencanaan dan membangun budaya belajar dari pengalaman masa lalu,” pesannya. (hm20)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN