Monday, July 20, 2026
home_banner_first
MEDAN

Pesanan Aksesori Ramadan Menurun di Medan, Pengusaha Pertahankan Harga Lama

Mistar.idKamis, 26 Februari 2026 pukul 15.17 WIB
pesanan_aksesori_ramadan_menurun_di_medan_pengusaha_pertahankan_harga_lama

Usaha aksesori Ramadan milik Mia (Foto: Susan/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Ramadan tahun ini membawa tantangan berbeda bagi Islamiah, 34 tahun, pengusaha aksesori Ramadan yang beralamat di Jalan Adi Sucipto, Kecamatan Medan Polonia. Jika dibandingkan tahun lalu, jumlah pesanan disebutnya mengalami penurunan, meski produksi tetap berjalan.

“Kalau dibandingkan tahun ini sama tahun yang kemarin, lebih banyak pesanan yang tahun kemarin. Tahun ini ibaratnya lumayan lah, belum begitu banyak kali,” ujar Mia, sapaan akrabnya, saat ditemui Mistar di lokasi, Kamis (26/2/2026).

Menurutnya, pada tahun sebelumnya pesanan sudah membludak bahkan sebelum puasa dimulai. Puncak penjualan biasanya terjadi menjelang Ramadan dan mendekati Lebaran. “Tahun kemarin sebelum puasa sudah banyak yang borong. Puncaknya sebelum puasa sama mau Lebaran,” katanya.

Mia memproduksi berbagai hiasan Ramadan, mulai dari ketupat enam ukuran, kecil, sedang, besar, paling besar hingga jumbo, serta aksesori seperti bulan bintang, bulan masjid, bedug gantung, lampion, hingga bedug besar untuk hiasan.

Untuk ketupat, bahan dasarnya dari gabus yang dicat hijau kuning. Sementara aksesori lainnya menggunakan bahan sterofoam. Harga yang ditawarkan juga bervariasi. “Kalau ketupat dari Rp5.000 sampai paling besar Rp150.000. Kalau aksesoris dari Rp15.000 sampai Rp1.000.000, itu sudah hiasan lengkap,” ucapnya.

Meski harga bahan baku disebutnya terus naik setiap tahun, Mia memilih tidak menaikkan harga jual. “Tiap tahun bahannya naik aja. Cuma kita nggak naikkan harga. Harganya tetap segitu,” ujarnya.

Produksi dilakukan berdasarkan jumlah pesanan. Dalam sehari, jika penjualan habis, produksi bisa mencapai ratusan unit. Untuk pesanan sekitar 100 pcs, waktu pengerjaan minimal tiga hari. “Kalau lebih dari itu bisa seminggu, tergantung pesanan,” katanya lagi menjelaskan.

Saat ini, ia tengah mengerjakan pesanan bulan masjid, bulan bintang, ketupat kecil, serta lampion dari Pancur Batu. Di antara berbagai produk, menurut Mia, lampion menjadi yang paling sulit dibuat. “Kalau kesulitan itu lampion, karena banyak kerjaannya. Nyatukannya lagi, ngecat lagi. Sulit dia buat lampion ini. Kalau ketupat mudah,” tuturnya.

Mia menyebutkan, pesanan tidak hanya datang dari Kota Medan, tetapi juga dari luar daerah seperti Aceh, Siantar, Berastagi, dan Sibolga. Namun, Mia mengakui ada dampak pengurangan pembelian akibat bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera. “Ada pengurangan. Cuma Aceh yang nggak kena banjir seperti Takengon itu yang pesan,” katanya.

Pengrajin yang sedang membuat aksesoris ketupat. (Foto: Susan/Mistar)


Usaha musiman ini telah digelutinya selama sekitar 10 tahun. Ia belajar dari pamannya sebelum akhirnya memproduksi dan menjual sendiri. Saat ini, sekitar enam orang membantunya mengerjakan aksesoris. Pesanan bahkan datang dari supermarket hingga hotel.

Meski hanya berproduksi saat Ramadan dan Idulfitri, Mia menyebut biasanya dalam sepekan pertama puasa pesanan mulai ramai. Namun, seminggu sebelum Lebaran, produksi sudah dihentikan. (hm20)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN