Menjaga Napas Pangan Sumut dari Gudang hingga Pelosok Nias

Sejumlah pekerja memikul karung berisi beras di Gudang Bulog Pulo Brayan, Kota Medan. (Foto: Amita/Mistar)
Medan, MISTAR.ID
Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, termasuk Sumatera Utara, pagi hari dimulai dengan aroma magis dari sepinggan nasi hangat yang mengepul di meja makan. Nasi itu mendampingi gurihnya teri Medan, tauco, atau sekadar telur dadar. Namun, di balik suapan-suapan tenang yang menghidupkan energi jutaan warga tersebut, ada sebuah ekosistem raksasa yang tidak pernah memejamkan mata.
Menjaga ketahanan pangan bagi 33 kabupaten/kota di Sumatera Utara dengan kondisi geografis yang ekstrem bukanlah sekadar urusan menumpuk karung di dalam gudang. Ini adalah pertempuran logistik, sains perawatan komoditas, hingga ketangguhan menembus badai lautan selama 24 jam penuh tanpa jeda.
Memasuki kompleks pergudangan Bulog di Sumatera Utara, hal pertama yang memikat indra adalah sirkulasi udara yang bergerak konsisten. Di sini, beras tidak diperlakukan sebagai benda mati yang ditelantarkan begitu saja.
Pimpinan Wilayah Perum Bulog Kanwil Sumatera Utara, Budi Cahyanto, mengungkapkan bahwa menjaga kualitas beras adalah langkah awal dan paling krusial sebelum pangan tersebut sampai ke tangan masyarakat.
“Beras itu sebenarnya barang hidup. Dia tetap mengeluarkan udara dan mengalami proses kimiawi di dalam tumpukannya yang saling menekan. Makanya, pengelolaan gudang harus sangat presisi,” kata Budi, Minggu (17/5/2026).
Untuk mengantisipasi kelembapan, Bulog Sumut menerapkan standar sanitasi dan aerasi (airflow) yang ketat. Sebelum beras masuk, gudang harus dibersihkan secara menyeluruh menggunakan blower. Di bawah setiap tumpukan (stapel) beras dipasang palet-palet kayu berlubang yang berfungsi mengalirkan udara dari bawah ke atas.
Tidak hanya itu, setiap tumpukan karung dilarang keras menempel langsung ke dinding gudang. Bulog sengaja menyisakan celah atau “gang kecil” di sepanjang dinding agar cahaya dan udara bebas bergerak, sekaligus menjadi ruang kontrol bagi petugas.
Sistem perputaran stok juga menggunakan prinsip First In, First Out (FIFO). Beras yang pertama kali masuk harus menjadi yang pertama disalurkan untuk menjaga kesegaran komoditas.
“Setiap 15 hari sekali kita lakukan spraying (penyemprotan) berkala untuk mencegah hama mingguan. Lalu, setiap tiga bulan sekali dilakukan fumigasi untuk memutus siklus hidup kutu,” ucap Budi menambahkan.
Bulog bahkan melakukan uji laboratorium secara periodik setiap enam bulan sekali untuk memantau ambang batas residu kimia dan biologi. Hasilnya, beras-beras Bulog yang beredar di Sumatera Utara dipastikan aman dari kontaminasi zat berbahaya dan selalu dalam kondisi segar saat didistribusikan.
Jika gudang adalah jantungnya, maka lini transportasi adalah pembuluh darah yang mengalirkan napas pangan ke seluruh pelosok Sumut. Di sinilah peran penting PT Jasa Prima Logistik (JPL) Bulog Cabang Sumatera Utara, anak perusahaan Bulog yang memegang komando pengangkutan.
Muhammad Faisal Siregar, selaku Kepala Cabang JPL Bulog Sumut dan pernah menjadi sopir distribusi beras Bulog, menceritakan bagaimana dinamika distribusi barang menguras energi dan komitmen moral timnya. Dalam istilah internal mereka, pengiriman logistik di dalam wilayah Sumatera Utara dikenal dengan sebutan moprek.
“Moprek itu cakupannya luas sekali, dari Medan sampai ke ujung terjauh Sumatera Utara, yaitu Kepulauan Nias,” ujar Faisal yang telah mendedikasikan diri belasan tahun di dunia logistik Bulog.
Tantangan terbesar yang dihadapi tim angkutan di lapangan adalah faktor alam. Untuk mengirimkan bantuan pangan ke Nias, truk-truk logistik harus menyeberangi lautan berombak besar dari Pelabuhan Sibolga. Ketika cuaca memburuk, hujan badai, atau ombak Samudra Hindia sedang mengamuk, risiko barang rusak terkena air laut menjadi taruhannya.
Faisal mengenang salah satu momen paling berat saat menangani pengiriman antarprovinsi (mupnas) pada akhir tahun lalu. Ketika banjir bandang memutus jalur lintas di kawasan Aceh Tamiang dan Langsa, armada truk pengangkut beras sempat tertahan berbulan-bulan di Lhokseumawe.
“Secara mental, kami harus kuat. Kami merangkul para vendor pemilik armada untuk berkomitmen menjaga barang bersama-sama. Di jalanan, prinsip kami satu, yaitu warga yang menunggu bantuan di ujung sana adalah keluarga kami sendiri. Badai atau banjir, bagaimanapun caranya harus kami hajar, yang penting beras aman sampai tujuan,” tuturnya tegas.






















