Saturday, July 4, 2026
home_banner_first
MEDAN

Menjaga Napas Pangan Sumut dari Gudang hingga Pelosok Nias

Mistar.idMinggu, 17 Mei 2026 pukul 17.26 WIB
menjaga_napas_pangan_sumut_dari_gudang_hingga_pelosok_nias

Sejumlah pekerja memikul karung berisi beras di Gudang Bulog Pulo Brayan, Kota Medan. (Foto: Amita/Mistar)

news_banner


Sumatera Utara memiliki karakteristik unik. Ada wilayah yang menjadi lumbung padi (produsen), namun berpenduduk sedikit, dan ada wilayah nonprodusen dengan kepadatan penduduk yang luar biasa.

Saat ini, Bulog Sumut mengelola 23 titik pergudangan yang tersebar di berbagai daerah.

Namun, Budi Cahyanto mengakui jumlah tersebut masih perlu ditambah guna mempercepat respons distribusi dan memotong biaya logistik yang tinggi. Terlebih lagi, penambahan gudang terakhir kali dilakukan pada tahun 1995 silam, sementara pemekaran wilayah dan pertumbuhan penduduk terus melesat.

Menurut pemetaan Bulog Sumut, setidaknya ada beberapa wilayah krusial yang saat ini ideal untuk dibangun fasilitas pergudangan baru, seperti Tapanuli Utara (Tarutung), Dairi atau Pakpak Bharat, Samosir, Mandailing Natal (Madina), Labuhanbatu Utara (Labura) atau Labuhanbatu Selatan (Labusel), Batubara, dan Nias (Nias Selatan, Nias Utara, atau Nias Barat) untuk menambah daya tampung gudang Gunungsitoli yang saat ini terbatas hanya 2.250 ton.

Untuk mengakalinya, saat ini Bulog memanfaatkan opsi sewa gudang seperti di wilayah Simalungun. Keberadaan gudang yang dekat dengan permukiman sangat krusial, bukan hanya untuk beras, tetapi juga untuk menjaga kestabilan harga komoditas lain seperti Minyakita.

“Kalau jarak gudang dekat, disparitas harga akibat ongkos angkut bisa ditekan. Pengecer bisa menjual sesuai HET (Harga Eceran Tertinggi),” kata Budi menjelaskan.

Ke depan, Bulog Sumut tengah merancang cetak biru digitalisasi terintegrasi dari hulu ke hilir. Di sektor hulu, Bulog berkomitmen menyerap gabah petani lokal seharga Rp6.500 per kilogram di tingkat sawah (atau Rp6.700 di penggilingan), bahkan untuk padi yang rusak akibat rebah atau hama, sepanjang mengantongi surat keterangan siap panen dari penyuluh pertanian.

Di sektor hilir, sistem berbasis barcode sedang disiapkan agar setiap warung pengecer beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) dapat dipantau stoknya secara real time.

Jika stok sebuah toko berada di bawah batas minimum, tim canvassing Bulog akan langsung mendatangi toko tersebut untuk melakukan pengisian ulang (restock). Sistem ini sekaligus mengunci transparansi harga agar tidak ada oknum yang menjual di atas HET.

Segala jerih payah, mulai dari pengaturan sirkulasi udara di gudang, pertarungan sopir truk menembus badai, hingga pemetaan digital, bermuara pada satu titik: senyuman masyarakat penerima manfaat.

Di berbagai titik penyaluran Bantuan Pangan Beras di Sumatera Utara, kehadiran truk Bulog selalu disambut dengan binar mata bahagia. Bagi masyarakat prasejahtera dan buruh harian, bantuan beras 10 kilogram bulanan merupakan benteng pertahanan paling konkret agar dapur mereka tetap berasap.

Rosdiana Sianipar, seorang warga Medan, menceritakan betapa berartinya bantuan ini di tengah ketidakpastian cuaca yang membuat tangkapan ikan menurun.

“Sekarang semua serba mahal, mulai dari bahan pokok seperti cabai hingga BBM, semua naik. Sementara gaji saya dan suami biasa saja. Mau beli beras di kedai, harganya sudah mahal. Alhamdulillah, ada beras bantuan dari Bulog. Kualitasnya sekarang bagus, bersih, putih, dan kalau dimasak rasanya pulen, tidak seperti stigma beras bantuan dulu. Uang yang harusnya untuk beli beras bisa saya pakai untuk keperluan sekolah anak,” ucap Rosdiana dengan penuh rasa syukur.

Kisah serupa datang dari Sri Hartati, 64 tahun, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Kabupaten Deli Serdang. Ia mengapresiasi ketepatan waktu penyaluran yang dilakukan oleh Bulog dan tim logistiknya.

“Kami tahu petugas-petugas itu mengantarkan beras kadang sampai malam, menembus hujan. Waktu daerah kami sempat tergenang air, truk mereka tetap datang. Kami sangat berterima kasih,” ujarnya seraya tersenyum syukur.

Faisal dari JPL Bulog mengatakan, ada beberapa hal yang menimbulkan kehangatan saat mengantarkan beras ke masyarakat.

“Melihat wajah warga yang cerah, tertawa, dan menyuguhkan kopi di tengah cuaca dingin saat kami mengantar beras, rasa lelah di perjalanan itu langsung hilang seketika. Di situ kami sadar, pekerjaan ini bukan cuma soal cari nafkah, tapi soal kemanusiaan,” tuturnya dengan suara bergetar.

Matahari perlahan tenggelam di cakrawala Sumatera Utara, menandai berakhirnya aktivitas sebagian besar masyarakat. Namun, di kompleks pergudangan Bulog, lampu-lampu sorot berdaya tinggi justru mulai dinyalakan, memandikan area sekitar dengan cahaya terang.

Deru mesin truk kembali bersahut-sahutan. Lembar-lembar manifes pengiriman baru telah dicetak dan berada di tangan para petugas yang bersiap melakukan pemuatan malam.

Di balik setiap piring nasi yang dinikmati dengan tenang oleh jutaan keluarga di Sumatera Utara, ada sebuah benteng pangan yang berdiri kokoh tanpa pernah tidur. Di dalamnya ada jiwa-jiwa tangguh yang memilih mengorbankan waktu istirahatnya demi memastikan bahwa esok hari tidak boleh ada satu pun warga Sumatera Utara yang kelaparan. (hm25)


Halaman:


BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN