Monday, July 20, 2026
home_banner_first
MEDAN

Cerita Haru Anak Guru Ngaji Jemaah Haji Asal Langkat yang Wafat di Tanah Suci

Mistar.idRabu, 3 Juni 2026 pukul 18.28 WIB
cerita_haru_anak_guru_ngaji_jemaah_haji_asal_langkat_yang_wafat_di_tanah_suci_

Fauzul Khair, anak bungsu Almarhumah jemaah haji Kloter 2 Nadhirah Sirajuddin Ismail, saat memberikan keterangan kepada awak media. (foto: amita/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Kepergian jemaah haji Kelompok Terbang (Kloter) 2 Debarkasi Medan atas nama Nadhirah Sirajuddin Ismail, 66 tahun, meninggalkan duka sekaligus rasa ikhlas yang mendalam bagi keluarga.

Jemaah asal Kecamatan Stabat, Kabupaten Langkat tersebut dilaporkan mengembuskan napas terakhirnya tepat setelah menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah mabit (bermalam) di Mina.

Anak bungsu almarhumah, Fauzul Khair, menceritakan secara detail kronologi detik-detik menjelang wafatnya sang ibu pada Jumat, 29 Mei 2026. Peristiwa duka itu terjadi di atas bus saat rombongan jemaah haji Kabupaten Langkat bersiap bertolak kembali menuju hotel di Makkah.

Fauzul mengatakan satu hari sebelum dinyatakan wafat, ibundanya sempat mengeluhkan kondisi fisik yang menurun akibat didera sesak napas, serta sakit perut ketika sedang mengantre di fasilitas toilet umum tenda Mina.

"Sebelumnya, satu hari sebelum wafat, Ibunda kami sempat sesak napas saat mengantre di toilet Mina. Kemudian pada hari Jumatnya, dua jam sebelum kejadian, kami sempat menelepon Ibu. Beliau bilang kondisinya sudah enak, sesaknya sudah hilang, dan sakit perutnya juga sudah berkurang. Di saat itulah semua jemaah Kloter Langkat mulai bergerak bersiap naik ke bus untuk kembali ke hotel di Makkah," kata Fauzul saat ditemui di Asrama Haji Medan, Rabu (3/6/2026).

Namun takdir berkata lain. Ketika almarhumah Nadhirah mulai melangkah menaiki tangga bus dan berhasil tiba di bagian dalam kabin, tubuhnya mendadak lemas dan langsung tidak sadarkan diri di hadapan jemaah lainnya.

Melihat kondisi darurat tersebut, petugas kloter langsung bergerak cepat memanggil tim medis eksternal. Almarhumah kemudian dievakuasi menggunakan mobil ambulans menuju Rumah Sakit Mina El Wadi (Mina El Wadi Hospital), Arab Saudi, untuk mendapatkan pertolongan pertama.

"Ibu langsung dibawa pakai ambulans ke Rumah Sakit Wadi Mina. Namun tidak lama setelah tiba di rumah sakit, Bunda kami tercinta menghembuskan napas terakhirnya di sana. Ibu berangkat ke Tanah Suci berdua dengan kakak kandung saya, anak paling besar. Sementara saya sendiri anak paling kecil, anak kedua dari dua bersaudara," ucap Fauzul dengan mata berkaca-kaca.

Semasa hidupnya di Stabat, almarhumah Nadhirah dikenal luas oleh masyarakat sekitar sebagai sosok perempuan yang bersahaja dan mendedikasikan waktunya untuk mengabdi sebagai seorang guru mengaji.

Bagi Fauzul dan keluarga besarnya di Kabupaten Langkat, kepergian sang ibunda secara mendadak di tengah perjalanan ibadah spiritual ini menorehkan kerinduan sekaligus rasa kehilangan yang teramat berat, terlebih karena dirinya tidak bisa mendampingi di detik-detik terakhir.

Kendati demikian, pihak keluarga mengaku telah merelakan dan menerima ketetapan tersebut dengan lapang dada. Mereka merasa bersyukur karena almarhumah meninggal dunia dalam keadaan khusnul khatimah usai menunaikan ibadah haji secara utuh.

Menurut Fauzul, almarhumah adalah sosok yang sangat menyayangi keluarga. Oleh karenanya, kepergian beliau cukup terasa berat bagi ia dan keluarga. Terlebih keluarga yang di rumah tidak bisa melihat langsung wajah beliau di akhir hayatnya.

"Tapi alhamdulillah, kami bersyukur dan berterima kasih kepada Allah SWT karena telah memilih Ibunda kami untuk wafat dan bersemayam di Tanah Suci Makkatul Mukarramah," ujar Fauzul.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN