Buntut Siswa Terpaksa Lintasi Pipa Pergi Sekolah, DPRD Sumut Desak Pemko Medan Bertindak

Sejumlah siswa sedang menyebrang sungai di atas pipa untuk menuju ke sekolah. (foto: istimewa/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Sekretaris Komisi D DPRD Sumatera Utara (Sumut), Defri Noval Pasaribu, mendesak Pemerintah Kota (Pemko) Medan untuk segera mengambil langkah konkret terkait akses penghubung warga di kawasan Kampung Baru, Kecamatan Medan Maimun, yang hingga kini belum diperbaiki pasca ambruk sejak 2024.
Politisi NasDem itu menegaskan, pemerintah tidak boleh membiarkan masyarakat menghadapi risiko keselamatan akibat lambannya penanganan infrastruktur vital tersebut.
“Pemerintah harus hadir memberikan rasa aman dan keselamatan bagi masyarakat. Jangan sampai masyarakat dipaksa menanggung risiko karena pembiaran yang terjadi,” ujarnya pada Mistar saat dikonfirmasi, Jumat (17/4/2026).
Menurutnya, jika status kepemilikan aset wilayah berada di bawah PT Kereta Api Indonesia, sehingga tidak bisa dibiayai melalui APBD Kota Medan, maka Pemko harus segera mencari solusi alternatif maupun solusi permanen lainnya.
Ia juga menekankan pentingnya peran dinas terkait dan unit pelaksana teknis (UPT) untuk menyampaikan laporan yang objektif dan transparan kepada Wali Kota Medan, agar kebijakan yang diambil tepat sasaran.
“Jangan sampai masyarakat hanya menyalahkan wali kota ketika persoalan ini mencuat. Semua pemangku kepentingan, mulai dari dinas, UPT, kecamatan, hingga kelurahan, harus memastikan kebutuhan masyarakat benar-benar menjadi prioritas,” katanya.
Ia menilai waktu dua tahun sejak ambruknya jembatan merupakan periode yang cukup lama untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Ia meminta agar perencanaan pembangunan tidak mengesampingkan kebutuhan mendesak masyarakat.
Selain itu, ia juga mendorong adanya koordinasi yang cepat dan terintegrasi antara Pemko Medan dan pihak KAI agar proses pembangunan tidak terhambat birokrasi yang berlarut-larut.
“KAI harus kooperatif dan mengedepankan nilai kemanusiaan. Jangan sampai niat baik Pemko nantinya terhambat karena proses birokrasi yang panjang,” ucap Ketua Garda Pemuda NasDem Sumut itu.
Sebelumnya, aksi nekat anak-anak sekolah yang melintasi pipa PDAM di atas aliran sungai di kawasan tersebut viral di media sosial. Jalur berbahaya itu terpaksa digunakan karena jembatan penghubung antarwilayah roboh dan belum kunjung diperbaiki.
Sejumlah warga mengaku khawatir terhadap keselamatan anak-anak yang setiap hari melintasi jalur tersebut. Dina, 62 tahun, warga yang telah tinggal di lokasi sejak 2007, menyebut jembatan itu merupakan akses vital bagi aktivitas masyarakat setempat.
Kondisi ini pun semakin mendesak perhatian pemerintah untuk segera menghadirkan solusi nyata demi keselamatan warga, khususnya anak-anak sekolah.























