Berbagi 1.500 Porsi Bubur Sup, Tradisi Sedekah Sultan Deli di Masjid Raya Al Mashun

Sejumlah masyarakat berburu bubur sup di Masjid Raya Al Mashun Medan. (foto: susan/mis
Medan, MISTAR.ID
Tradisi sedekah yang diwariskan sejak era Kesultanan Deli masih terus hidup di Masjid Raya Al Mashun Medan. Setiap Ramadan, masjid yang berada di Kecamatan Medan Kota itu, selalu menyediakan sekitar 1.500 porsi bubur sup yang dibagikan secara gratis kepada masyarakat sebagai menu untuk berbuka puasa.
Pengurus masjid, Hamdan, mengatakan tradisi ini telah berlangsung puluhan tahun sejak masjid peninggalan Sultan Deli diresmikan. Dahulu, sajian berbuka yang dibagikan adalah bubur pedas, khas Melayu, yang menjadi hidangan istimewa pada masa kepemimpinan Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alam, sultan kesembilan Kesultanan Deli.
Ia menjelaskan dahulu kala hal ini merupakan sedekah sultan. Namun, saat ini bukan sedekah pribadi sultan lagi, tetapi terbuka bagi masyarakat yang ingin berbagi.
“Sekitar 40, 45 tahun lalu bubur pedas ini beralih jadi bubur sup. Ini karena proses membuat bubur pedas cukup rumit. Bahan rempah dan umbi-umbian yang dipakai juga sudah sulit didapatkan di pasaran, ditambah lagi teknik memasaknya tidak bisa dilakukan sembarang orang,” ujarnya saat ditemui Mistar, Jumat (20/2/2026).
Menurut Hamdan, menu ini menjadi andalan karena cita rasanya tetap terjaga dan memiliki keunikan tersendiri, dan juga memiliki gizi yang tinggi. Resep yang tidak berubah dari tahun ke tahun menjadi ciri khas tersendiri, karena dimasak oleh orang-orang khusus yang mewarisi keahlian tersebut secara turun-temurun.
Dalam sekali masak, bubur sup menghabiskan 10 kilogram daging sapi tanpa tulang, 30 kilogram beras, serta sayur-mayur seperti kentang yang bisa mencapai 15 kilogram. Campuran daging cincang, ubi, kacang, kentang, wortel dan beras diaduk menjadi satu hingga menghasilkan bubur yang siap disantap.
“Kita membagi buburnya dalam dua kali pembagian. Pertama itu untuk dibawa pulang sama jemaah. Lalu kedua disediakan untuk masyarakat yang akan berbuka langsung di area masjid ini,” tuturnya.
Hamdan mengungkapkan, perbedaan paling mencolok antara dulu dan sekarang terletak pada siapa yang dapat menikmati sajian tersebut. Dulu, hanya sekitar 50 orang saja yang bisa mengkonsumsi bubur ini dan tidak dibagikan kepada masyarakat.

Bubur sup di Masjid Raya Al Mashun. (foto: susan/mistar)
Ia juga kembali meluruskan anggapan yang masih berkembang di tengah masyarakat bahwa takjil yang dibagikan adalah bubur pedas. Saat ini yang disajikan adalah bubur sup, meski secara historis memang berawal dari bubur pedas di masa Kesultanan Deli.
Tradisi pembagian bubur sup ini, kata Hamdan, akan berlangsung mulai dari hari pertama hingga 27 Ramadan. Memasuki tanggal 28 hingga akhir bulan puasa, menu berbuka diganti menjadi nasi bungkus karena pihak masjid disibukkan dengan pembagian zakat fitrah.
Salah seorang jemaah, Yani, 68 tahun, mengaku senang karena dapat menikmati bubur sup khas Masjid Raya Al Mashun Medan. “Seru, karena ramai sekali. Jadi berebut gitu kita, tapi walaupun ramai semua tetap tertib,” katanya.
Warga Pematangsiantar itu sudah beberapa kali mendengar tentang bubur sup, namun baru kali ini dapat mencicipi secara langsung. “Saya pikir, oh begini rupanya bubur pedas. Enak dan terasa pedasnya. Habis juga bubur saya tadi,” ucapnya sambil tertawa kecil.
Usai berbuka dengan bubur sup, Yani bersama keluarganya melanjutkan salat Maghrib di Masjid Raya Al Mashun Medan. Ia juga memanjatkan doa dan harapan untuk masa depan bangsa Indonesia.
“Maunya damai-damai sajalah, jangan ada kerusuhan. Insyaallah, menjadi bulan penuh berkah. Apalagi Sumatra saat ini lagi berkabung kan, kiranya berlalu lah bencana itu. Jangan ada banjir-banjir lagi,” katanya penuh harap.



















