Sunday, July 19, 2026
home_banner_first
MEDAN

Anatomi Blackout Sumbagut, Akademisi USU Sebut Efek Domino Sistem Kelistrikan

Mistar.idJumat, 29 Mei 2026 pukul 20.21 WIB
anatomi_blackout_sumbagut_akademisi_usu_sebut_efek_domino_sistem_kelistrikan

Ilustrasi mati lampu (foto: Gemini/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Pemadaman listrik skala besar (blackout) yang melanda wilayah Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) dan sekitarnya pada Jumat (22/5/2026) menjadi perhatian serius.

Dari sudut pandang teknik elektro, fenomena ini disebut menjadi kegagalan sistemik cascading (berantai) pada jaringan interkoneksi. Hal ini disampaikan Akademisi dari Universitas Sumatera Utara (USU), Prof Yulianta Siregar.

Berdasarkan data teknis, sebut Yulianta, pemicu utamanya adalah gangguan pada saluran transmisi tegangan tinggi (SUTET) 275 kV jalur Muara Bungo-Sungai Rumbai / Rumai akibat cuaca ekstrem.

Sekretaris program studi S2 Teknik Elektro USU itu menjelaskan sistem kelistrikan Sumatera menggunakan sistem interkoneksi yang menghubungkan jaringan Sumatera Bagian Utara (SBU), Tengah (SBT), dan Selatan (SBS) untuk berbagi beban dan cadangan daya.

"Ketika jalur utama 275 kV tersebut terganggu, terjadi efek domino. Terputusnya jalur Rumai-Muaro Bungo secara instan memisahkan sistem SBU dan SBT melalui proses System Splitting atau Island Attrition. Sistem yang tadinya menyatu tiba-tiba terbelah menjadi dua wilayah 'pulau' kelistrikan yang terisolasi," ujarnya kepada Mistar, Jumat (29/5/2026).

Pemisahan ini memicu ketidakseimbangan daya (Load-Generation Imbalance). Sebelum terpisah, terdapat aliran daya besar (power transfer) dari wilayah selatan/tengah menuju utara (atau sebaliknya).

Saat jalur putus, lanjutnya, wilayah yang kekurangan pembangkit mengalami defisit daya secara mendadak, yang menyebabkan penurunan frekuensi secara drastis di bawah ambang batas aman 50 Hz.

Selanjutnya, kegagalan berantai pada gardu dan pembangkit, untuk melindungi generator agar tidak rusak akibat frekuensi yang kacau, sistem proteksi otomatis (Under Frequency Relay atau URF) akan melepas beban atau mematikan pembangkit secara otomatis (trip).

“Akibatnya, pembangkit-pembangkit besar ikut bertumbangan karena kehilangan sinkronisasi, memicu blackout total di Aceh, Sumut, hingga Sumbar,” katanya.

Yulianta menambahkan, cuaca ekstrem secara teknis memicu gangguan melalui tiga mekanisme, yaitu sambaran petir (lightning strike) yang menyebabkan back-flashover (lompatan api) pada isolator dan menciptakan hubungan singkat.

Kemudian angin kencang yang memicu kabel transmisi berayun hebat (conductor galloping) hingga menyentuh dahan pohon, serta kerusakan fisik infrastruktur seperti tanah longsor atau angin puting beliung yang mampu merobohkan menara SUTET (tower collapse).

Tingkat kerentanan jaringan kelistrikan Sumatera saat ini dinilai berada pada level cukup rentan terhadap gangguan transien (kejutan mendadak) karena desain jaringannya yang berbentuk lorong (Radial/Spine Network) memanjang dari selatan ke utara.

Berbeda dengan sistem Jawa-Bali yang berbentuk jala (mesh) yang rapat, sistem Sumatera menjadikan jalur transmisi 275 kV sebagai tulang punggung utama (backbone).

“Ketika satu segmen penting di wilayah tengah seperti segmen Jambi putus, tidak ada rute alternatif (redudansi) yang cukup kuat untuk mengalirkan daya dalam jumlah besar dari wilayah selatan ke utara, sehingga pemisahan sistem hampir pasti terjadi,” ujarnya.

Kerentanan ini diperparah oleh masalah keseimbangan beban regional (Regional Imbalance), di mana pusat pembangkit besar (PLTU batubara/mulut tambang) banyak terkonsentrasi di wilayah Sumatera Bagian Selatan dan Tengah, sementara wilayah Utara memiliki pertumbuhan beban tinggi namun kapasitas pembangkitnya tidak sepadan. Ketergantungan utara pada transfer daya dari selatan sangat tinggi.

Selain itu, kecepatan respons sistem proteksi dinamis juga berpengaruh. Jika kapasitas inersia sistem rendah karena kurangnya pembangkit berputar berskala besar di wilayah tersebut, penurunan frekuensi akan terjadi terlalu cepat sehingga sistem proteksi melepas pembangkit demi keamanan mekanis mereka sendiri.

“Hal ini lah yang memicu total blackout alih-alih pemadaman terlokalisasi,” tuturnya.

Mengenai proses pemulihan pasca-blackout yang memakan waktu lama, Prof. Yulianta memaparkan bahwa System Restoration atau Black Start Procedure sangat rumit karena sifat interdependensi sistem kelistrikan.

"Untuk menghasilkan listrik, pembangkit listrik juga membutuhkan listrik. Pembangkit listrik skala besar seperti PLTU tidak bisa menyala sendiri dari kondisi mati total (cold start). Mereka membutuhkan daya internal yang besar untuk menyalakan peralatan bantu (auxiliary equipment) seperti memutar pompa air pengisi ketel, kipas emisi, hingga sistem kontrol komputer," katanya.

Ia menambahkan, proses pemulihan berjalan secara bertahap seperti efek domino yang lambat:

1. Menyalakan Generator Kecil: Petugas menyalakan generator diesel darurat atau PLTA yang menggunakan energi gravitasi air untuk menghasilkan listrik pertama.

2. Membangun Jaringan Lokal (Island/Sanctuary): Listrik dari PLTA dialirkan melalui jalur transmisi yang sudah diisolasi secara hati-hati menuju ke PLTU atau PLTG terdekat.

3. Memanaskan Pembangkit Besar: Daya tersebut digunakan untuk menyalakan alat bantu PLTU. Proses memanaskan ketel uap (boiler) hingga cukup untuk memutar turbin utama membutuhkan waktu minimal 4 hingga 8 jam jika kondisi pembangkit masih hangat (hot start), dan bisa lebih dari 12 jam jika sudah dingin (cold start).

“Setelah beberapa pembangkit berhasil menyala, mereka tidak bisa langsung dihubungkan begitu saja. Menghubungkan dua sistem listrik yang tidak sinkron secara paksa akan menciptakan hubungan singkat raksasa yang bisa menghancurkan generator,” katanya.

Petugas di pusat pengatur beban (seperti P3B Sumatera), sebutnya, harus memastikan parameter tegangan (voltase), frekuensi (50 Hz), dan sudut fase benar-benar identik sebelum menyatukan jaringan antarpembangkit demi menghindari hubungan singkat raksasa yang bisa menghancurkan generator.

Jika jaringan transmisi sudah tersambung kembali, PLN tidak bisa langsung menyalakan listrik ke seluruh kota sekaligus. Hal ini disebabkan oleh fenomena yang disebut Inrush Current dan Load Shock.

Kejutan Beban (Load Shock), jika beban yang dimasukkan terlalu besar sekaligus (misal langsung menyalakan satu provinsi), frekuensi sistem (50 Hz) akan langsung merosot tajam karena generator belum siap menerima beban berat tersebut. Hal ini akan memicu sistem proteksi bekerja lagi dan mengakibatkan blackout kedua (re-blackout).

Arus Kejut (Inrush Current), saat listrik menyala, jutaan AC, kulkas, dan mesin industri milik warga yang posisinya masih "on" akan menarik arus listrik berkali-kali lipat lebih besar dari kondisi normal dalam beberapa detik pertama.

“Oleh karena itu, petugas harus memasukkan beban secara bertahap, daerah demi daerah, penyulang (feeder) demi penyulang, sambil memantau dengan ketat apakah frekuensi dan tegangan jaringan tetap stabil,” ucapnya.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN