Warong Nasi Pariaman Akan Tutup Setelah 78 Tahun: Legenda Nasi Padang di Singapura Tinggal Kenangan

Tangkapan layar media sosial @Paraiaman yang ditampilkan The Straits Time. (foto:dokumen/mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Setelah hampir delapan dekade menjadi penanda rasa dan memori, Warong Nasi Pariaman, salah satu kedai nasi padang paling legendaris di Singapura, akan resmi menutup operasionalnya pada 31 Januari. Kabar ini menandai berakhirnya perjalanan kuliner yang telah dimulai sejak 1948, sekaligus meninggalkan duka dan nostalgia mendalam bagi para pelanggannya lintas generasi.
Pengumuman penutupan disampaikan melalui unggahan Instagram pada 20 Januari, di mana pihak pengelola mengucapkan terima kasih atas dukungan, cinta, dan kenangan manis yang telah dibagikan bersama pelanggan selama puluhan tahun.
Warisan Kuliner Sejak 1948
Didirikan oleh Haji Isrin, perantau asal Pariaman, Sumatera Barat, Warong Nasi Pariaman pertama kali beroperasi di Kandahar Street sebelum akhirnya menetap di 738 North Bridge Road, tak jauh dari Masjid Sultan, kawasan Kampong Glam.
Sejak awal, warung ini dikenal konsisten menyajikan nasi padang autentik khas pesisir Pariaman, dengan karakter masakan bersantan kental dan kaya rempah. Usaha ini kemudian diwariskan dari generasi ke generasi, menjadikannya simbol ketekunan dan keberlanjutan usaha keluarga Minangkabau di negeri rantau.
Menurut Singapore Infopedia dari National Library Board, Warong Nasi Pariaman diyakini sebagai kedai nasi padang tertua yang masih bertahan di Singapura—sebuah status yang menempatkannya sebagai bagian penting dari sejarah kuliner nasional.
Menu Ikonik yang Melekat di Ingatan
Keistimewaan Warong Nasi Pariaman terletak pada kesetiaannya menjaga rasa asli Minangkabau pesisir. Beberapa menu yang paling dikenal pelanggan antara lain:
- Rendang daging dengan bumbu pekat dan tekstur kering
- Ikan bakar beraroma asap dengan sambal khas
- Sotong kalio, cumi dalam kuah santan kental
- Ayam gulai dengan rempah seimbang
- Sayur nangka dan sambal goreng sebagai pelengkap
Disajikan bersama nasi putih hangat dan etalase lauk terbuka, pengalaman makan di Warong Nasi Pariaman menghadirkan nuansa tradisional yang sulit ditemukan di tengah modernisasi kuliner saat ini.
Pengakuan sebagai Penjaga Tradisi
Pada 2016, Warong Nasi Pariaman masuk dalam daftar penerima Heritage Heroes Awards, sebuah penghargaan yang diberikan kepada usaha kuliner yang berjasa melestarikan tradisi makanan lokal Singapura.
Penghargaan ini menegaskan peran Warong Nasi Pariaman bukan hanya sebagai tempat makan, tetapi sebagai penjaga warisan budaya, yang bertahan di tengah gempuran restoran modern dan tren makanan cepat saji.
Gelombang Nostalgia dari Para Pelanggan
Kabar penutupan ini langsung memicu respons emosional di media sosial. Banyak pelanggan membagikan kenangan masa kecil dan momen keluarga yang lekat dengan Warong Nasi Pariaman.
Pengguna Instagram @norismilda menulis, “Best childhood memories… when dad went to Friday prayers and brought Pariaman back. The taste still lingers in my thoughts.”
Sementara @adzari menyebut warung ini sebagai destinasi wajib setiap kali berkunjung ke Singapura, seraya mengenang keramahan para pelayan yang selalu menyambut pelanggan dengan senyum.
Di Facebook, Wini Hasby Taufiq mengungkapkan keterikatan lintas generasi, menyebut Warong Nasi Pariaman sebagai makanan favoritnya sejak lahir hingga kini diwariskan kepada anak-anaknya.
Tutup Tanpa Alasan Resmi, Bayang-Bayang Biaya Sewa
Hingga kini, pengelola Warong Nasi Pariaman belum mengungkap alasan pasti di balik keputusan penutupan. Namun, laporan CNA sebelumnya mencatat lonjakan signifikan harga sewa di kawasan Kampong Glam, dengan beberapa penyewa di Haji Lane mengalami kenaikan dari sekitar S$3.000 menjadi hampir S$10.000.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran akan keberlangsungan usaha kuliner warisan di tengah tekanan ekonomi dan komersialisasi kawasan bersejarah.
Akhir Sebuah Bab, Bukan Akhir Cerita
Penutupan Warong Nasi Pariaman bukan sekadar berakhirnya sebuah usaha kuliner, melainkan hilangnya ruang memori bagi banyak keluarga. Selama 78 tahun, warung ini telah menjadi saksi perjalanan waktu, pertemuan lintas generasi, dan cita rasa yang membentuk identitas komunitas Melayu–Minangkabau di Singapura.
Saat pintunya ditutup pada akhir Januari nanti, Warong Nasi Pariaman akan tetap hidup dalam ingatan para pelanggannya—sebagai legenda nasi padang yang tak tergantikan.
(berbagaisumber/ai/hm27)
BERITA TERPOPULER





















