Friday, July 3, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Self-Diagnosis Jadi Tren, Anak Muda Andalkan Media Sosial hingga AI untuk Cek Penyakit

Mistar.idJumat, 15 Mei 2026 pukul 05.00 WIB
selfdiagnosis_jadi_tren_anak_muda_andalkan_media_sosial_hingga_ai_untuk_cek_penyakit

Ilustrasi. (Foto: Istimewa/Mistar)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID

Studi terbaru dari Health Collaborative Center (HCC) menunjukkan hampir 60 persen responden berusia di bawah 40 tahun memilih melakukan swadiagnosis atau self-diagnosis sebelum berkonsultasi dengan dokter maupun fasilitas kesehatan.

Ketua peneliti sekaligus pendiri HCC, Ray Wagiu Basrowi, menilai kebiasaan ini telah menjadi bagian dari budaya kesehatan masyarakat urban. Mesin pencari berbasis kecerdasan buatan, media sosial, hingga pengalaman pengguna lain di internet kini menjadi rujukan utama untuk mencari penjelasan atas keluhan kesehatan.

"Internet dianggap lebih praktis, lebih cepat, lebih murah, dan terasa lebih personal," ujar Ray, dilansir dari CNN Indonesia, Jumat (15/5/2026).

Menurut Ray, fenomena ini mencerminkan adanya system fatigue atau kelelahan sistemik. Banyak orang merasa akses ke layanan kesehatan membutuhkan waktu lama, antrean panjang, biaya tambahan, serta energi emosional yang tidak sedikit.

Penelitian HCC dilakukan pada Maret hingga Mei 2026 dengan metode mixed-method terhadap 448 responden dari sejumlah kota besar di Indonesia, termasuk Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta.

Hasil studi menunjukkan Google dan berbagai mesin pencari berbasis AI menjadi sumber utama swadiagnosis. Selain itu, masyarakat juga banyak memanfaatkan situs kesehatan dan konten digital lainnya.

Keluhan yang paling sering dicari berkaitan dengan gangguan pernapasan, masalah jantung dan pembuluh darah, gangguan pencernaan, hingga persoalan psikologis.

Kondisi ini berkaitan dengan istilah cyberchondria, yakni meningkatnya kecemasan akibat terlalu sering mencari informasi medis di internet.

Penelitian juga menemukan 36 persen responden mengaku langsung melakukan swamedikasi tanpa berkonsultasi dengan dokter. Sementara 27 persen lainnya memilih mengabaikan resep karena merasa informasi yang ditemukan secara online lebih sesuai.

Meski demikian, sebanyak 57 persen hasil swadiagnosis ternyata dinyatakan benar setelah diperiksa dokter.

"Ketika seseorang merasa hasil pencarian internetnya beberapa kali terbukti benar, maka kepercayaan terhadap proses swadiagnosis akan meningkat. Ini bisa membentuk ilusi kompetensi medis semu di masyarakat," kata Ray.

Ia menegaskan informasi dari internet sebaiknya dipandang sebagai alat skrining awal atau identifikasi risiko, bukan diagnosis medis yang menyeluruh.

Studi tersebut juga menunjukkan responden dengan riwayat penyakit kronis memiliki kemungkinan 2,5 kali lebih besar melakukan swadiagnosis dibanding kelompok lainnya.

Lebih dari separuh responden merasa metode ini lebih nyaman karena dinilai praktis, hemat biaya, dan tidak perlu menunggu antrean.

HCC menilai tren tersebut menjadi sinyal bahwa sistem kesehatan modern tidak hanya menghadapi penyakit, tetapi juga derasnya arus informasi digital yang memengaruhi keputusan masyarakat.

"Tantangannya adalah bagaimana negara, tenaga kesehatan, platform digital, dan institusi pendidikan membangun literasi kesehatan digital yang sehat dan bertanggung jawab," ujarnya.

Menurut HCC, peningkatan literasi kesehatan digital perlu menjadi agenda nasional baru, terutama di tengah pesatnya perkembangan AI dan algoritma media sosial yang semakin memengaruhi cara masyarakat mengambil keputusan terkait kesehatan.

Walau kepercayaan terhadap dokter masih tinggi, internet kini semakin sering digunakan masyarakat sebagai sarana untuk memverifikasi kembali diagnosis dan terapi yang diberikan tenaga medis. (hm20)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN