4.157 Kasus GHPR di Toba Selama 2025-2026, Tiga Orang Meninggal

Dinas Kesehatan Kabupaten Toba. Foto: Nimrot/MISTAR
Toba, MISTAR.ID - Dinas Kesehatan Kabupaten Toba mencatat sebanyak 4.157 kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) sepanjang 2025 hingga 2026. Dari ribuan kasus tersebut, tiga orang dilaporkan meninggal dunia.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Toba, Mangapul Pardede, mengatakan tiga korban meninggal tersebut tidak melaporkan gigitan yang dialami kepada tenaga kesehatan untuk mendapatkan penanganan.
“Korban GHPR tidak melakukan pelaporan kepada tenaga kesehatan setempat seperti bidan desa, puskesmas serta langsung ke Dinas Kesehatan untuk mendapat penanganan dan mendapatkan vaksin anti rabies (VAR),” ujar Mangapul, Rabu (30/9/2026).
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Toba, sepanjang 2025 terdapat 2.146 kasus GHPR. Dari jumlah tersebut, sebanyak 990 kasus mendapatkan vaksin anti rabies (VAR).
Sementara pada 2026, tercatat 2.011 kasus GHPR dengan 1.012 kasus di antaranya mendapatkan VAR.
Mangapul menjelaskan, tidak semua kasus gigitan hewan otomatis memerlukan pemberian VAR. Penanganan ditentukan berdasarkan tingkat risiko gigitan serta kondisi dan riwayat vaksinasi hewan yang menggigit.
“Misalkan digigit anjing, sementara anjing tersebut sudah pernah divaksin dan tidak risiko gigitan berisiko tinggi, maka pasien tidak perlu divaksin. Cukup dengan perawatan luka sesuai SOP kesehatan dan selalu dalam pantauan,” jelasnya.
Menurutnya, vaksinasi terhadap hewan peliharaan juga dilakukan secara rutin oleh Dinas Pertanian melalui bidang peternakan. Hal ini menjadi salah satu upaya untuk mencegah penyebaran rabies pada hewan yang dipelihara masyarakat.
Meski demikian, masyarakat tetap diminta segera melaporkan setiap kasus gigitan hewan yang berpotensi menularkan rabies kepada tenaga kesehatan agar dapat dilakukan penilaian risiko dan penanganan sesuai prosedur.
Mangapul mengatakan, pemberian VAR juga harus disesuaikan dengan indikasi medis dan tingkat risiko setiap kasus.
“Apabila seluruh kasus gigitan hewan mendapatkan VAR, bisa jadi stok atau ketersediaan vaksin di Dinas Kesehatan Toba tidak akan mampu menyuplai seluruh kasus gigitan hewan yang dimiliki masyarakat,” tuturnya. (*)








































