Monday, July 20, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Selat Hormuz Memanas: 20% Minyak Dunia Dipertaruhkan, AS Desak Jepang–China Ikut Amankan Jalur Vital

Mistar.idSelasa, 17 Maret 2026 pukul 10.27 WIB
selat_hormuz_memanas_20_minyak_dunia_dipertaruhkan_as_desak_jepangchina_ikut_amankan_jalur_vital

Sebuah kapal tanker gas LPG di jangkar sebagai lalu lintas turun di Selat Hormuz, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Shinas, Oman, 11 Maret 2026. (foto:REUTERS/Benoit Tessier/Mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Selat Hormuz kembali menjadi sorotan dunia. Jalur laut sempit di Timur Tengah ini mendadak berubah menjadi titik panas geopolitik yang berpotensi mengguncang ekonomi global.

Penyebabnya jelas: sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati selat tersebut setiap hari. Jika jalur ini terganggu atau bahkan ditutup, dampaknya bisa langsung terasa dari harga bahan bakar hingga stabilitas ekonomi internasional.

Situasi yang memanas membuat Presiden Amerika Serikat meminta negara-negara besar Asia seperti Jepang, China, dan Korea Selatan untuk ikut berperan menjaga keamanan Selat Hormuz. Washington menilai stabilitas jalur ini bukan hanya kepentingan Barat, tetapi juga negara-negara Asia yang menjadi konsumen utama energi dari kawasan Teluk.

Arteri Energi Dunia

Selat Hormuz sering disebut sebagai “arteri energi global”. Setiap hari, puluhan kapal tanker raksasa membawa sekitar 20 juta barel minyak dari negara-negara Teluk menuju berbagai belahan dunia.

Minyak tersebut berasal dari produsen besar seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab. Selain minyak, jalur ini juga menjadi rute penting bagi perdagangan gas alam cair (LNG), terutama dari Qatar yang merupakan salah satu eksportir gas terbesar di dunia.

Gangguan kecil saja di jalur ini dapat langsung memicu lonjakan harga energi di pasar internasional.

Asia Paling Bergantung

Meski berada jauh dari kawasan konflik, negara-negara Asia justru menjadi pihak yang paling bergantung pada Selat Hormuz.

Sebagian besar minyak yang melewati selat ini dikirim ke Asia, terutama ke China, Jepang, Korea Selatan, dan India. Negara-negara tersebut mengandalkan energi dari Timur Tengah untuk menopang industri, transportasi, hingga pembangkit listrik.

Itulah sebabnya Amerika Serikat mendorong negara-negara tersebut untuk ikut berkontribusi dalam menjaga keamanan jalur pelayaran internasional tersebut.

Jalur Sempit dengan Risiko Besar

Meski sangat vital bagi ekonomi global, Selat Hormuz sebenarnya memiliki ukuran yang relatif sempit.

Lebar keseluruhan selat hanya sekitar 30 hingga 40 kilometer. Namun jalur pelayaran yang digunakan kapal tanker bahkan lebih sempit, hanya beberapa kilometer untuk masing-masing arah.

Kondisi ini membuat jalur tersebut sangat rentan terhadap gangguan militer, mulai dari ranjau laut, kapal perang, hingga serangan drone. Dalam situasi konflik, hambatan kecil saja dapat langsung melumpuhkan arus kapal tanker yang melintas.

Dampak Global Jika Ditutup

Banyak analis energi menilai penutupan Selat Hormuz akan menjadi salah satu krisis energi terbesar dalam sejarah modern.

Pasokan minyak global bisa berkurang jutaan barel per hari dalam waktu singkat. Akibatnya, harga minyak dunia berpotensi melonjak tajam dan memicu gelombang inflasi di berbagai negara.

Efeknya tidak hanya terasa pada sektor energi. Industri transportasi, manufaktur, hingga logistik global bisa ikut terdampak karena meningkatnya biaya operasional.

Bahkan beberapa negara yang sangat bergantung pada impor energi mulai mempertimbangkan langkah penghematan energi jika ketegangan di kawasan tersebut terus meningkat.

Risiko Eskalasi Konflik

Selain dampak ekonomi, Selat Hormuz juga memiliki potensi besar memicu konflik militer yang lebih luas.

Iran menguasai sebagian garis pantai di sisi utara selat tersebut dan memiliki kemampuan militer untuk mengganggu jalur pelayaran. Jika ketegangan meningkat, negara-negara besar kemungkinan akan mengerahkan kekuatan angkatan laut untuk memastikan jalur tetap terbuka.

Skenario inilah yang membuat banyak pengamat menyebut Selat Hormuz sebagai salah satu titik paling sensitif dalam geopolitik global saat ini.

Selat Kecil, Dampak Besar

Di peta dunia, Selat Hormuz mungkin hanya terlihat sebagai jalur laut kecil di antara Iran dan Oman. Namun dalam praktiknya, selat ini memegang peran yang jauh lebih besar.

Dengan sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati jalur tersebut, stabilitas Selat Hormuz menjadi faktor kunci bagi keamanan energi global.

Ketika ketegangan geopolitik meningkat di kawasan ini, dunia sebenarnya sedang mengawasi satu hal: apakah arteri energi global itu akan tetap terbuka, atau justru berubah menjadi pemicu krisis baru bagi ekonomi dunia.

(berbagaisumber/ai/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN