Kisah Kelam Penyintas Genosida Yazidi, Disiksa dan Jadi Budak Seks ISIS

Penyintas Yazidi asal Irak, Sipan Khalil. (Foto: Dokumentasi Middle East Eye/Rudaw/@sepan.ajo)
Berlin, MISTAR.ID
Seorang perempuan Yazidi asal Irak, Sipan Khalil, mengungkapkan kisah kelam hidupnya saat diculik kelompok ISIS, diperbudak, dan disiksa, termasuk ketika ditahan di rumah pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi.
Sipan Khalil, 26 tahun, merupakan penyintas genosida Yazidi yang terjadi di wilayah Sinjar, Irak Utara, pada 2014. Dalam kesaksiannya kepada media Kurdi Rudaw, Sipan mengatakan seluruh keluarganya dibantai saat ISIS menyerbu desa Kocho. Ayah dan saudara laki-lakinya tewas, sementara paman serta sepupunya juga dibunuh.
Ia termasuk ribuan perempuan dan anak Yazidi yang diculik ISIS dalam serangan tersebut. Data internasional mencatat lebih dari 6.400 perempuan dan anak Yazidi menjadi korban penculikan, perbudakan, dan kekerasan seksual dalam peristiwa yang diakui dunia sebagai genosida.
Sipan mengaku berpindah tangan dari satu anggota ISIS ke anggota lainnya sebelum akhirnya dibawa ke rumah istri Abu Bakr al-Baghdadi. Sebelumnya, ia sempat ditahan di rumah wakil Baghdadi yang kemudian tewas dalam serangan udara.
Selama berada di lingkungan pimpinan ISIS, Sipan dipaksa menjadi pembantu rumah tangga dan hidup dalam ketakutan. Ia menyebut Baghdadi sebagai sosok tanpa nurani dan mengungkapkan adanya kekerasan terhadap perempuan, termasuk anak-anak.
Dalam upaya bertahan hidup, Sipan diam-diam mencatat identitas para pelaku dan jaringan perdagangan manusia ISIS. Namun catatan itu ditemukan, membuatnya mengalami penyiksaan lebih berat dan dikurung dalam sel isolasi selama sepekan tanpa makanan dan cahaya.
Setelah ISIS mulai kalah, Sipan hampir kembali diperjualbelikan ke luar negeri. Namun dalam perjalanan, sebuah ledakan menewaskan para penculiknya. Sipan terluka, tetapi selamat dan akhirnya ditolong warga setempat sebelum kembali ke Irak.
Ia kemudian direlokasi ke Jerman, tempat ia kini tinggal dan membangun kembali kehidupannya. Sipan bekerja di Farida Organization, sebuah lembaga hak asasi manusia yang didirikan para penyintas Yazidi, sekaligus mengurus adik-adiknya yang kehilangan orang tua.
Sipan kini aktif berbicara di berbagai forum publik di Jerman untuk mengingatkan dunia tentang bahaya genosida dan pentingnya perlindungan terhadap kelompok minoritas.
Ia menegaskan bahwa kekerasan terhadap Yazidi dan Kurdi tidak boleh dilupakan agar tragedi serupa tidak terulang di masa depan. (hm25)
BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER



















