Gelombang Pengunduran Diri Kader PKR Guncang Posisi Anwar Ibrahim

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim melambaikan tangan saat tiba di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (28/7/2025). Kunjungan PM Malaysia Anwar Ibrahim ke Indonesia tersebut dalam rangka agenda Konsultasi Tahunan Ke-13 yang merupakan forum bilateral tertinggi antara Indonesia dan Malaysia. (Foto: Antara Foto/Hafidz Mubarak A/nz)
Kuala Lumpur, MISTAR.ID
Stabilitas politik Malaysia kembali menjadi sorotan setelah gelombang pengunduran diri kader Partai Keadilan Rakyat (PKR) memicu spekulasi mengenai kekuatan politik Perdana Menteri Anwar Ibrahim.
Krisis internal partai mencuat setelah mantan Menteri Ekonomi Malaysia, Rafizi Ramli, memutuskan keluar dari PKR dan mendirikan partai baru bernama Partai Persatuan Malaysia atau Bersama.
Keputusan Rafizi mengejutkan banyak pihak mengingat ia selama ini dikenal sebagai salah satu sekutu terdekat sekaligus mantan anak didik Anwar Ibrahim. Bahkan, Rafizi sebelumnya disebut-sebut sebagai kandidat kuat penerus kepemimpinan Anwar di masa depan.
Partai Bersama yang baru dibentuk itu diklaim telah menerima lebih dari 18.000 permohonan anggota baru. Sekitar sepertiga dari jumlah tersebut disebut berasal dari mantan kader PKR yang memilih mengikuti langkah Rafizi.
Perpindahan kader ini menimbulkan kekhawatiran mengenai soliditas PKR menjelang pemilihan umum berikutnya. Situasi semakin memanas setelah 21 pimpinan lokal PKR dilaporkan mengundurkan diri secara serentak pada Senin lalu.
Mereka menilai prinsip reformasi dan demokrasi yang selama ini menjadi dasar perjuangan partai tidak lagi dijalankan secara konsisten. Para mantan pengurus tersebut menganggap Bersama sebagai wadah yang lebih sesuai untuk memperjuangkan cita-cita reformasi.
Anwar Ibrahim yang menjabat sebagai Perdana Menteri sejak November 2022 juga menghadapi kritik terkait lambatnya pelaksanaan reformasi kelembagaan dan agenda pemberantasan korupsi yang selama ini menjadi janji politiknya.
Anggota parlemen PKR, Hassan Abdul Karim, mengakui kondisi internal partai saat ini sedang rapuh. Menurutnya, arus keluarnya kader dari partai semakin sulit dibendung.
Meski demikian, pimpinan PKR membantah adanya eksodus besar-besaran. Sekretaris Jenderal PKR, Fuziah Salleh, menyebut perpindahan anggota masih berada dalam skala terbatas.
Sementara itu, Kepala Informasi PKR, Fahmi Fadzil, mengatakan partainya justru memperoleh sekitar 5.000 anggota baru dalam dua bulan terakhir. Ia menegaskan jumlah anggota PKR tetap stabil dan kini melebihi satu juta orang.
Pakar politik dari Universitas Nottingham Asia, Bridget Welsh, menilai konflik internal tersebut tetap menjadi kerugian bagi Anwar. Menurutnya, publik mulai mempertanyakan kemampuan Anwar dalam mengelola partainya sendiri.
Meski menghadapi tekanan internal, posisi Anwar di pemerintahan masih relatif aman. Koalisi yang dipimpinnya masih menguasai mayoritas kursi parlemen dan pemilu berikutnya dijadwalkan berlangsung pada awal 2028.
Hingga kini, Anwar Ibrahim belum memberikan komentar lebih lanjut terkait dinamika internal partainya maupun kemungkinan percepatan jadwal pemilu. (hm25)





















