Wednesday, August 26, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

AS Perketat Tekanan Ekonomi Terhadap Iran

Mistar.idRabu, 26 Agustus 2026 pukul 12.15 WIB
as_perketat_tekanan_ekonomi_terhadap_iran

Menteri Keuangan AS Scott Bessent. (Foto: NY Times)

news_banner

Washington DC, MISTAR.ID – Amerika Serikat (AS) mengumumkan perluasan embargo ekonomi untuk menekan perekonomian Iran. Washington akan menargetkan mitra dagang Iran di tengah perang Asia Barat (Timur Tengah).

Menteri Keuangan AS Scott Bessent tidak memaparkan langkah konkret, tetapi meminta publik menantikan kebijakan tersebut pekan ini.

Bessent menggambarkan rencana itu sebagai "asfiksia" atau pencekikan ekonomi terhadap rezim di Teheran. Kemungkinan embargo ekonomi akan dicapai melalui sanksi sekunder terhadap mitra dagang Iran.

"Di seluruh dunia, tujuan kami adalah memutus setiap jalur ekonomi yang menopang rezim tirani ini sampai Teheran berdiri sendiri," kata Bessent dalam konferensi pers, dilansir dari detik.com.

Ia menambahkan, "kami akan meminta pertanggungjawaban semua pihak."

Bessent menyebut program tersebut sebagai "Operation Economic Outcast".

"Ketika Perang Dunia Kedua, D-Day menandai awal bersejarah dari sebuah kampanye bersama sekutu kami untuk menargetkan dan mengusir musuh dari posisinya, termasuk mereka yang berada di negara-negara ketiga," kata Bessent.

Menurutnya, kebijakan itu akan menargetkan Iran "dan para pendukungnya."

"Iran kini menghadapi pilihan yang sangat jelas dengan dua jalan di hadapan mereka, yaitu isolasi penuh secara global dan ekonomi subsisten, atau jalan kembali ke keadaan normal dengan kesempatan untuk bergabung kembali dengan ekonomi global," tutur Bessent.

Ia mengatakan Kementerian Keuangan telah memetakan setiap simpul, jaringan, serta fasilitator yang digunakan Iran untuk menyelundupkan minyak dan menghindari sanksi.

Bessent menegaskan AS akan mulai memperketat aturan untuk membatasi setiap sumber pendapatan potensial yang mendanai Garda Revolusi Iran (IRGC) dan rezim Teheran.

"Presiden sedang menghubungi para pemimpin dunia dengan permintaan khusus agar mereka menghentikan interaksi dengan rezim tersebut. Kami sudah melihat hasilnya," tutur Bessent. (Detik)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN