Sunday, July 19, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Arab Saudi Tetapkan Awal Ramadan Hari Ini

Mistar.idRabu, 18 Februari 2026 pukul 08.04 WIB
arab_saudi_tetapkan_awal_ramadan_hari_ini

Pengamat hilal di Arab Saudi menggunakan teleskop untuk mengamati tanda dimulainya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, di Observatorium Astronomi Universitas Majmaah, 170 kilometer ke utara Riyadh, Selasa (17/2/2026). Puasa di Arab Saudi dimulai pada Rabu, 18 Februari 2026.(AFP/Fayez Nureldine)

news_banner

Riyadh, MISTAR.ID

Mahkamah Agung Arab Saudi mengumumkan bahwa hilal penanda awal Ramadan telah teramati di wilayah Kerajaan.

Mengutip Arab News, penampakan tersebut menandakan bulan Ramadan dimulai pada Rabu, 18 Februari 2026. Hari itu menjadi awal ibadah puasa dan rangkaian doa di seluruh penjuru Arab Saudi.

Ramadan adalah bulan kesembilan dalam kalender Hijriah yang dijalani umat Islam di seluruh dunia sebagai momentum berpuasa, memperbanyak doa, melakukan refleksi diri, serta mempererat kebersamaan sosial.

Umat Muslim juga meyakini bahwa Al-Qur’an pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad pada bulan suci ini. Ramadan kemudian ditutup dengan perayaan Idulfitri.

Di Indonesia, Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa hilal di kawasan Asia Tenggara juga tidak terlihat pada Selasa (17/2/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan Nasaruddin dalam konferensi pers setelah sidang isbat penetapan 1 Ramadan 1447 Hijriah yang digelar di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat.

Karena hilal belum teramati, sejumlah negara Asia Tenggara seperti Singapura, Malaysia, dan Indonesia menetapkan 1 Ramadan jatuh pada 19 Februari.

Di Indonesia, penetapan awal Ramadan dilakukan melalui dua pendekatan, yakni hisab dan rukyat.

Hisab berfungsi sebagai metode perhitungan informatif, sementara rukyat menjadi langkah konfirmasi atas hasil hisab.

Metode hisab menggunakan kalkulasi matematis-astronomis untuk menentukan awal bulan Hijriah tanpa observasi langsung terhadap hilal.

Adapun rukyat dilakukan dengan cara mengamati hilal, baik menggunakan mata telanjang maupun alat bantu seperti teropong.

Dalam praktiknya, Indonesia menerapkan kriteria MABIMS, yaitu tinggi hilal minimal 3 derajat di atas ufuk saat matahari terbenam dan elongasi atau jarak sudut bulan terhadap matahari sedikitnya 6,4 derajat. (hm20)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN