Usai Kebakaran, Pedagang Parluasan Siantar Pertanyakan Kinerja Dinas Pasar

Johan Sianipar, salah seorang anak dari pedagang kain di Pasar Parluasan. (Foto: Abdi/Mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Pasar Dwikora Parluasan, yang selama ini menjadi urat nadi perekonomian masyarakat Pematangsiantar, kembali menyimpan cerita pilu, pascaterbakar pada Kamis (18/6/2026) dini hari.
Musibah ini bukan hanya menghanguskan lapak-lapak fisik, tetapi juga memusnahkan harapan, modal usaha, dan mata pencaharian utama warga. Di balik puing-puing arang yang tersisa, tersimpan amarah dan kekecewaan mendalam dari para pedagang terhadap kinerja Dinas Pasar setempat.
Bagi sebagian pedagang, bencana ini seperti mengulang mimpi buruk yang sama. Johan Sianipar, salah seorang anak dari pedagang kain di Pasar Parluasan, mengungkapkan rasa frustrasinya yang mendalam. Sejak kecil, Johan telah tumbuh dan ikut berdagang di pasar ini, dan peristiwa dini hari tadi merupakan kebakaran ketiga yang ia saksikan langsung.
"Ini sudah yang ketiga kalinya saya mengalami kebakaran di Pasar Parluasan. Pertama kali terjadi pada tahun 1998. Kali ini saya sangat kecewa dengan Dinas Pasar," ujar Johan dengan nada getir kepada Mistar di lokasi kejadian, Kamis (18/6/2026).
Johan mengenang, pascakebakaran beruntun pada tahun 1998 dan 1999 silam, pihak Dinas Pasar dinilai lepas tangan dan tidak bertanggung jawab penuh atas nasib pedagang.
"Dulu tahun 1998 dan 1999, Dinas Pasar tidak bertanggung jawab atas kebakaran ini. Sekarang saya sudah semakin dewasa, saya akan semakin frontal. Kali ini saya akan melawan ketidakadilan yang terjadi di Pasar Parluasan," tegasnya.
Johan mengaku baru mengetahui kabar buruk tersebut pada pagi hari dari sang ibu yang merupakan pedagang pakaian di area tersebut.
"Saya mendapat informasi dari orang tua sekitar pukul 09.00 WIB. Mamak saya menelepon dan mengatakan tempat jualan kami sudah hangus terbakar. Orang tua saya berdagang baju di sini. Saya sendiri tidak, tapi sejak kecil saya selalu ikut membantu berdagang baju di pasar ini," jelas Johan.
Berdasarkan estimasi awal, kerugian material yang dialami keluarga Johan saja mencapai ratusan juta rupiah. Nilai ini diprediksi akan melonjak berkali-kali lipat jika diakumulasikan dengan total seluruh pedagang yang terdampak.
Diketahui, area yang hangus terbakar tersebut merupakan zona padat yang diisi oleh pedagang pakaian baru, tukang jahit, pedagang cabai, hingga pedagang bumbu dapur.
Lebih lanjut, Johan menyoroti kejanggalan dan pembiaran infrastruktur yang terjadi di Pasar Parluasan selama bertahun-tahun. Ia menyebut kawasan yang terbakar tersebut mengalami stagnasi total atau pertumbuhan ekonomi nol akibat buruknya tata kelola dan akses jalan.
Baca Juga: Pajak Parluasan Membara Sejak Dini Hari, Saksi Sebut Ada Pria Bermasker Sebelum Api Muncul
"Kalau dibilang pertumbuhan ekonominya nol di daerah sini, memang pertumbuhannya nol. Dan Dinas Pasar seperti tidak mau tahu dengan apa yang terjadi selama ini. Akses jalan di sini semakin parah. Ini akses Pajak Parluasan yang sudah didiamkan beberapa tahun lalu, semua jalannya rusak parah," tuturnya.
Kondisi infrastruktur yang terbengkalai dikombinasikan dengan musibah kebakaran yang berulang memicu kecurigaan mendalam di kalangan pedagang.
"Makanya saya curiga dengan kebakaran ini. Pertumbuhan ekonomi sudah tidak ada, tiba-tiba pasar ini terbakar lagi," cetus Johan penuh tanya.
Menyikapi musibah dan ketidakjelasan nasib pascakebakaran, para pedagang Pasar Dwikora Parluasan berencana melakukan konsolidasi untuk menentukan langkah ke depan, termasuk menuntut pertanggungjawaban pemerintah daerah.
"Setelah ini, kami seluruh pedagang akan berkumpul terlebih dahulu untuk bermusyawarah bagaimana menyelesaikan masalah bangunan Pasar Parluasan ini ke depannya. Mungkin kami akan menggelar aksi demo ke Kantor DPRD untuk menuntut tanggung jawab Dinas Pasar terhadap keberlangsungan Pasar Parluasan ini," tutup Johan.
Hingga berita ini diturunkan, puing-puing kebakaran masih dalam proses penanganan, sementara pihak kepolisian dan dinas terkait belum memberikan keterangan resmi mengenai penyebab pasti munculnya api. (hm25)
BERITA TERPOPULER






















