Prajurit Asal Asahan Tewas Dianiaya Senior di Timika, Keluarga Minta Pelaku Dihukum Berat dan Dipecat

Ayah Pratu Farkhan, menuntut hukuman berat bagi pelaku yang sudah membunuh anaknya. (foto: Perdana / Mistar)
Asahan, MISTAR.ID
Kasus kematian prajurit satu Farkhan Syauqi Marpaung, prajurit asal Kabupaten Asahan yang meninggal dunia setelah diduga dianiaya senior saat bertugas di Timika, Papua, menjaga wilayah perbatasan, kini pelaku telah diamankan.
Terduga pelaku merupakan prajurit berpangkat Kopral Dua (Kopda) yang saat kejadian berada dalam satu pos penugasan Satgas Pengamanan Perbatasan Indonesia–Papua Nugini. Ia disebut memukul dan menendang korban pada 31 Desember 2025 di tempat mereka bertugas.
Ibu Pratu Farkhan, Masinah Wati Silalahi (54), yang telah mendapat kabar bahwa senior yang menganiaya anaknya itu sedang dalam proses peradilan di kesatuannya, dengan suara bergetar meminta agar keadilan ditegakkan tanpa pandang bulu.
Ia menuntut pelaku dihukum berat serta dipecat dari satuan TNI Angkatan Darat. Bagi Masinah, kematian anak sulungnya itu merupakan luka yang tak bisa ditambal hanya dengan ucapan belasungkawa.
“Setidaknya dia dicopot dari jabatannya dan dipecat, serta dihukum seberat-beratnya,” ujar Masinah, Selasa (6/1/2026). Pernyataan tersebut menggambarkan jeritan hati seorang ibu yang kehilangan putra kebanggaannya di tangan sesama berseragam.
Masinah menilai tidak ada alasan yang dapat membenarkan kekerasan terhadap prajurit yang sedang sakit dan berada dalam penugasan resmi negara. “Anak saya berangkat untuk tugas, bukan untuk disakiti oleh kawannya sendiri,” ucapnya di hadapan sejumlah kerabat yang terus menitikkan air mata.
Sebelumnya, Pratu Farkhan diketahui berdinas di Yonif 113/Jaya Sakti Aceh dan sedang menjalani misi Satgas di wilayah Timika. Informasi awal yang diterima keluarga menyebutkan korban meninggal karena sakit. Namun, rangkaian fakta yang terungkap kemudian justru menggambarkan situasi berbeda, memunculkan kecurigaan mendalam dari orang tua dan warga kampung halaman.
Ayah korban, Zakaria Marpaung, sempat menceritakan bahwa sepupu almarhum mengabarkan Farkhan sedang tidak enak badan dan menghangatkan diri di dekat perapian pos. Seorang senior berpangkat sersan bahkan disebut membantu memijat tubuh korban dan menanyakan kondisinya. Namun, tak lama kemudian datang prajurit lain berpangkat kopral yang memanggil Farkhan menjauh dari perapian.
Di lokasi terpisah itulah, menurut penuturan Zakaria, terjadi dugaan penganiayaan. Korban disuruh menunduk dengan sikap “tobat”, lalu dipukul menggunakan ranting ke bagian punggung. Kekerasan berlanjut dengan tendangan hingga korban tersungkur ke tanah. Pratu Farkhan sempat melakukan perlawanan karena merasa terdesak dan mempertahankan nyawanya.
“Kami ingin proses ini transparan. Jangan ada lagi anak bangsa mati di tangan sesama prajurit,” kata Zakaria. Ia khawatir budaya kekerasan internal akan terus berulang apabila tidak ada sanksi tegas dan evaluasi menyeluruh. (hm27)
NEXT ARTICLE
Residivis Sabu Ditangkap Polsek Bosar MaligasBERITA TERPOPULER























