Friday, July 17, 2026
home_banner_first
HUKUM & PERISTIWA

Ibu Muda di Siantar Laporkan Suami ke Polisi Usai Alami Dugaan KDRT Bertahun-tahun

Mistar.idJumat, 17 Juli 2026 pukul 20.09 WIB
ibu_muda_di_siantar_laporkan_suami_ke_polisi_usai_alami_dugaan_kdrt_bertahuntahun

VAM didampingi keluarga di Polres Pematangsiantar. (foto:abdi/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID, (17/7/2026) - Batas kesabaran manusia ada batasnya. Ungkapan tersebut menggambarkan keputusan bulat yang diambil VAM (28), seorang ibu muda asal Jalan Patimura Bawah, Kecamatan Siantar Timur. Setelah sekian lama memilih bungkam dan menahan derita akibat tabiat kasar suaminya, berinisial T, ia akhirnya memutuskan melawan melalui jalur hukum.

Dengan sisa keberanian di tengah trauma psikologis yang mendalam, VAM melangkah ke Mapolres Pematangsiantar didampingi kerabat dekatnya. Langkah tersebut diambil untuk mengadukan dugaan tindakan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang dialaminya.

Aduan tersebut kini resmi terdaftar dengan nomor laporan: STTLP/B/430/VII/2026/SPKT/POLRES PEMATANG SIANTAR/POLDA SUMATERA UTARA.

VAM menceritakan kronologi malam kelam yang membulatkan tekadnya untuk melapor, yakni pada Sabtu (11/7/2026) sekitar pukul 23.00 WIB. Tragisnya, penganiayaan yang dialaminya malam itu diduga dipicu oleh hal sederhana: VAM hanya ingin anak-anaknya bisa tidur dengan nyenyak.

"Sekitar jam 10 malam, dia (suami) justru mengganggu anak-anak yang posisinya sudah mau tidur. Spontan sebagai ibu, saya tegur. Maksud saya baik, supaya anak-anak tidak terganggu dan bisa istirahat," kenang VAM dengan suara yang masih bergetar menahan tangis kepada Mistar.id, Jumat (17/7/2026).

Alih-alih mengerti, teguran tersebut justru menyulut emosi suaminya. Pertengkaran mulut pun tak terhindarkan. Di tengah ketegangan yang memuncak, VAM sempat melontarkan kalimat lirih, "Sudah tidak ada di hati."

Kalimat pendek itulah yang disebut VAM membuat suaminya langsung gelap mata.

Tanpa memikirkan perasaan sang istri, suaminya diduga melancarkan aksi kekerasan fisik. Tangan kanan VAM ditarik paksa lalu diputar berkali-kali. Tak berhenti di situ, dahi korban juga disebut ditampar dengan keras.

Siksaan demi siksaan terus dialami korban, mulai dari cubitan di lengan dan area tubuh lainnya, hantaman keras pada bagian siku kanan, hingga puncaknya dada korban diduga ditendang dengan kuat.

Akibat dugaan penganiayaan tersebut, VAM tidak hanya menderita luka fisik di sejumlah bagian tubuh, tetapi juga mengalami guncangan psikis.

Di hadapan penyidik kepolisian, VAM akhirnya menumpahkan cerita kelam dalam rumah tangganya yang selama ini ia tutup rapat dari ruang publik. Ia mengungkapkan bahwa perilaku kasar suaminya bukanlah hal baru.

"Tangan ringannya sudah sering saya rasakan. Bahkan sejak saya masih mengandung anak kami," akunya pedih.

Selama bertahun-tahun, ia memilih bertahan dan mengalah demi pertumbuhan anak-anak mereka. Namun, kekerasan yang disebut terjadi pada malam itu menyadarkannya bahwa bertahan dalam diam bukan lagi pilihan.

Laporan pengaduan korban kini telah resmi diterima oleh Polres Pematangsiantar dan ditandatangani langsung oleh Kanit SPKT, IPDA Bernad Sitorus. Di balik trauma yang masih membayangi, VAM berharap aparat kepolisian dapat segera memproses laporan tersebut sesuai hukum yang berlaku demi mendapatkan keadilan dan rasa aman. (hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN