Tuesday, July 21, 2026
home_banner_first
HIBURAN

Happy Salma Cerita Hadapi Perimenopause, Alami Brain Fog hingga Perubahan Emosi

Mistar.idJumat, 17 April 2026 pukul 21.23 WIB
happy_salma_cerita_hadapi_perimenopause_alami_brain_fog_hingga_perubahan_emosi

Happy Salma (Foto: Istimewa/Mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Perimenopause merupakan fase transisi menuju menopause yang kerap terjadi tanpa disadari oleh banyak perempuan. Kondisi ini membawa perubahan fisik dan emosional akibat fluktuasi hormon dalam tubuh.

Aktris Happy Salma turut membagikan pengalamannya memasuki fase tersebut di usia 46 tahun. Ia mengaku baru benar-benar memahami perubahan yang terjadi pada tubuhnya seiring bertambahnya usia.

“Sekarang usia 46 tahun. Dulu kami tidak benar-benar paham tentang fase ini. Padahal menopause itu sesuatu yang tidak terhindarkan,” ujarnya.

Happy menjelaskan bahwa perimenopause tidak hanya berdampak pada fisik, tetapi juga kondisi emosional. Ia merasakan dirinya menjadi lebih sensitif dibandingkan sebelumnya, termasuk dalam menghadapi situasi sehari-hari.

“Dulu PMS mungkin cuma bikin lebih sensitif, sekarang rasanya bisa jauh lebih sensitif,” katanya.

Selain perubahan emosi, ia juga mengalami kondisi yang dikenal sebagai brain fog, yaitu gangguan kognitif ringan yang membuat seseorang lebih mudah lupa, sulit fokus, dan merasa kurang jernih dalam berpikir. Kondisi ini berdampak pada aktivitas pekerjaannya yang membutuhkan konsentrasi tinggi.

“Saya bekerja dengan menghafal naskah, tapi sekarang sering mengalami brain fog, jadi mudah lupa,” ungkapnya.

Meski begitu, Happy menilai perimenopause bukanlah fase yang perlu ditakuti. Ia justru melihatnya sebagai kesempatan untuk lebih memahami diri sendiri dan meningkatkan kualitas hidup.

Menurutnya, fase ini dapat menjadi momen refleksi yang membuat seseorang lebih menghargai kehidupan dan lebih sadar akan kesehatan mental maupun emosional.

Sementara itu, dokter spesialis menjelaskan bahwa perubahan emosi pada masa perimenopause sangat dipengaruhi oleh fluktuasi hormon, terutama estrogen yang berperan dalam fungsi otak. Kondisi ini dapat memicu berbagai gejala seperti insomnia, kecemasan, hingga emotional eating.

Tanpa penanganan yang tepat, gejala tersebut dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, pendekatan medis maupun terapi pendukung sering kali diperlukan untuk membantu menstabilkan kondisi emosional.

Beberapa metode terapi modern juga dikembangkan untuk membantu mengelola stres dan meningkatkan fokus, termasuk teknologi neuromodulasi yang dirancang untuk mendukung keseimbangan mental serta membantu proses relaksasi.

Dengan pemahaman yang lebih baik, perimenopause dapat dijalani sebagai fase alami kehidupan yang tetap memungkinkan perempuan untuk menjaga produktivitas dan kualitas hidup.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN