Monday, July 20, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Saham BBCA Melemah ke Rp7.850, Investor Asing Net Sell Rp1,49 Triliun

Mistar.idRabu, 21 Januari 2026 pukul 15.53 WIB
saham_bbca_melemah_ke_rp7850_investor_asing_net_sell_rp149_triliun

Saham BBCA melemah ke Rp7.850 (Foto: Istimewa/Mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Pergerakan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali menjadi sorotan pelaku pasar. Pada perdagangan Senin (19/1/2026), saham bank swasta terbesar di Indonesia ini tertekan dan bergerak di zona merah. Hingga sekitar pukul 14.58 WIB, saham BBCA tercatat turun 0,93 persen ke level Rp8.000 per saham.

Tekanan jual terlihat cukup kuat. Sebanyak 115,2 juta saham BBCA berpindah tangan dengan frekuensi transaksi mencapai 26.786 kali. Nilai transaksi tercatat sekitar Rp929,84 miliar, menandakan aktivitas jual beli yang cukup ramai di tengah koreksi harga.

Dalam sebulan terakhir, minat investor asing terhadap saham BBCA cenderung melemah. Berdasarkan data perdagangan periode 16 Desember 2025 hingga 15 Januari 2026, investor asing mencatatkan aksi jual bersih atau net sell senilai Rp1,49 triliun di saham Bank Central Asia.

Dari sisi teknikal, Kiwoom Sekuritas memetakan level support pertama saham BBCA berada di kisaran Rp7.950, sementara support berikutnya di level Rp7.850. Area ini menjadi titik krusial yang banyak dipantau pelaku pasar dalam jangka pendek.

Pada perdagangan Selasa pagi, saham BBCA kembali bergerak melemah. Berdasarkan data terbaru, saham BBCA berada di level Rp7.850 per saham, turun Rp150 atau sekitar 1,88 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp8.000. Saham ini dibuka di harga Rp7.925, sempat menyentuh level tertinggi harian Rp7.950, dan terendah di Rp7.850.

Meski mengalami koreksi, posisi saham BBCA masih berada dalam rentang yang relatif aman. Harga saat ini masih jauh dari level tertinggi 52 minggu di Rp9.800, namun juga cukup jauh dari titik terendah 52 minggu di Rp7.225. Kondisi tersebut mencerminkan sikap investor yang cenderung wait and see di tengah ketidakpastian pasar.

Dari sisi fundamental, kinerja BBCA dinilai tetap solid. Kapitalisasi pasar Bank Central Asia saat ini mencapai sekitar Rp973,06 triliun, menjadikannya salah satu emiten dengan nilai pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Rasio price to earnings (P/E) BBCA berada di kisaran 16,98 kali, yang kerap dinilai premium, namun sebanding dengan kualitas aset, stabilitas laba, dan manajemen risiko perseroan.

Saham BBCA juga dikenal konsisten dalam membagikan dividen. Dividend yield tercatat sekitar 3,87 persen, dengan dividen tahunan sebesar Rp76,19 per saham. Kebijakan dividen ini menjadikan BBCA sebagai saham defensif yang diminati investor jangka panjang.

Dari sisi sentimen, pelemahan saham BBCA tidak terlepas dari kondisi pasar secara keseluruhan. Investor global masih bersikap hati-hati menyikapi arah suku bunga, nilai tukar, serta dinamika ekonomi global. Di dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada kebijakan moneter Bank Indonesia, terutama terkait suku bunga acuan dan likuiditas perbankan.

Meski demikian, prospek jangka menengah hingga panjang BBCA masih dinilai positif oleh analis. Oso Sekuritas, misalnya, memasukkan saham BBCA sebagai saham pilihannya untuk tahun 2026 dengan rekomendasi beli (buy) dan target harga 12 bulan di level Rp9.000 per saham.

Oso Sekuritas memperkirakan biaya dana BBCA akan turun menjadi sekitar 1,0 persen pada 2026, didorong oleh penurunan porsi deposito berjangka berbiaya tinggi serta peningkatan rasio dana murah atau CASA. Kondisi ini dinilai mampu menjaga margin bunga bersih (NIM) perseroan.

Bagi investor jangka panjang, koreksi harga saham BBCA kerap dipandang sebagai peluang akumulasi bertahap selama tidak disertai penurunan fundamental. Sementara bagi trader jangka pendek, volatilitas harga membuka peluang transaksi dengan mencermati area support di kisaran Rp7.800–Rp7.850 dan resistance di sekitar Rp8.000.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN