Rupiah Tembus Rp17.300 per Dolar AS, Tekanan Global Picu Potensi Kenaikan Biaya Hidup

Ilustrasi Rupiah Tembus Rp17.300 per Dolar AS (Foto: Istimewa/Mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah ketidakpastian ekonomi global dan meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah.
Bank Indonesia mencatat, pada 21 April 2026 rupiah berada di level Rp17.140 per dolar AS, melemah 0,87 persen dibandingkan akhir Maret 2026. Tekanan berlanjut pada perdagangan Kamis (23/4/2026), ketika rupiah sempat menyentuh Rp17.300 sebelum akhirnya ditutup di Rp17.286 atau melemah 0,61 persen dalam sehari.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai pelemahan rupiah saat ini belum berdampak langsung secara signifikan terhadap kondisi masyarakat. Ia menyebut daya beli masih relatif terjaga, tercermin dari indikator konsumsi seperti Indeks Keyakinan Konsumen yang berada di level 122,9 serta pertumbuhan penjualan ritel sebesar 6,5 persen pada Februari 2026.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa jika pelemahan rupiah berlangsung lama, dampaknya dapat merembet ke kenaikan harga barang, terutama yang bergantung pada impor seperti energi, bahan baku industri, dan logistik. Sektor transportasi, pertanian, hingga industri berbasis bahan impor seperti farmasi dan kimia dinilai paling rentan terdampak.
Menurut Josua, efek pelemahan rupiah tidak terjadi secara instan, melainkan bertahap dan dapat dirasakan masyarakat melalui kenaikan biaya transportasi, harga pangan, hingga barang kebutuhan rumah tangga.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembelian dolar secara panik, melainkan memperkuat kondisi keuangan pribadi dengan pengelolaan arus kas, menambah dana darurat, serta menghindari utang berbunga mengambang.
Sementara itu, ekonom pasar global Myrdal Gunarto dari Maybank Indonesia menilai pelemahan rupiah turut mendorong inflasi dari barang impor. Namun dampaknya disebut masih dapat diredam oleh kebijakan fiskal pemerintah melalui APBN, termasuk menjaga stabilitas harga energi.
Ia menambahkan, langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi pasar dan kebijakan suku bunga dinilai sudah cukup aktif untuk meredam volatilitas.
Secara umum, para ekonom menilai tekanan rupiah saat ini lebih dipengaruhi faktor eksternal, namun dampaknya ke masyarakat akan bergantung pada durasi pelemahan serta respons kebijakan ekonomi ke depan.
BERITA TERPOPULER
























