Rupiah Melemah ke Rp17.105 per Dolar AS, Ketegangan Timur Tengah Picu Tekanan Pasar

Rupiah Melemah ke Rp17.105 per Dolar AS (Foto: Istimewa/Mistar)
Jakarta, MISTAR.ID
Nilai tukar rupiah kembali tertekan di pasar spot pada penutupan perdagangan Selasa (7/4/2026). Mata uang Garuda tercatat melemah 0,42 persen ke level Rp17.105 per dolar Amerika Serikat, dipicu meningkatnya ketidakpastian global.
Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai tekanan terhadap rupiah berasal dari memanasnya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah. Kekhawatiran pasar meningkat setelah Donald Trump menetapkan tenggat waktu kepada Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.
Menurut Ibrahim, gangguan lalu lintas kapal tanker dalam beberapa pekan terakhir telah memperketat ekspektasi pasokan energi global. Kondisi ini turut meningkatkan premi risiko di pasar minyak dan membuat investor cenderung berhati-hati.
“Pelaku pasar saat ini bersiap menghadapi potensi eskalasi konflik, terutama menjelang tenggat waktu yang diberikan Amerika Serikat kepada Iran. Situasi ini memperbesar tekanan di pasar energi global,” ujarnya.
Diplomasi Mandek, Risiko Konflik Meningkat
Upaya diplomatik antara pihak terkait hingga kini belum menunjukkan hasil signifikan. Iran menolak proposal yang didukung Amerika Serikat, termasuk rencana gencatan senjata sementara dan pembukaan Selat Hormuz secara bertahap.
Sebaliknya, Iran mengajukan sejumlah syarat seperti penghentian konflik permanen, jaminan keamanan, pencabutan sanksi, hingga kompensasi kerugian. Sementara itu, Donald Trump menegaskan bahwa tenggat waktu yang diberikan bersifat final dan membuka kemungkinan aksi militer jika tidak dipenuhi.
Ketegangan ini berdampak langsung pada rantai pasok energi global. Harga minyak dunia melonjak tajam, bahkan sempat menyentuh kisaran 113 dolar AS per barel, jauh di atas asumsi APBN 2026 sebesar 70 dolar AS per barel.
Tekanan Global dan Dampak ke Dalam Negeri
Lonjakan harga energi turut meningkatkan risiko inflasi global serta memperumit arah kebijakan moneter, khususnya menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat yang menjadi acuan suku bunga bank sentral AS.
Dari sisi domestik, kenaikan harga minyak menambah tekanan terhadap fiskal pemerintah. Beban subsidi dan kompensasi energi diperkirakan meningkat, sementara ruang fiskal semakin terbatas.
Ekonom juga menyoroti masih adanya celah dalam sistem subsidi energi berbasis komoditas. Konsumsi oleh kelompok mampu dinilai masih terjadi, sehingga berpotensi mengurangi akses bagi masyarakat yang lebih membutuhkan, seperti nelayan.
Dalam kondisi ini, penyesuaian harga bahan bakar minyak dinilai belum menjadi opsi jangka pendek mengingat daya beli masyarakat yang masih lemah. Pemerintah didorong untuk mengedepankan efisiensi belanja dan realokasi anggaran sebagai langkah menjaga stabilitas ekonomi.
Investor Waspada, Rupiah Berpotensi Fluktuatif
Dengan meningkatnya ketidakpastian global dan tekanan domestik, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan fluktuatif dalam waktu dekat. Pelaku pasar kini mencermati perkembangan geopolitik serta arah kebijakan moneter global sebagai faktor utama penentu sentimen.
PREVIOUS ARTICLE
Strategi Pemerintah Tekan Harga Avtur


















