Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.860 per Dolar AS

Pegawai menunjukan mata uang Dolar Amerika Serikat dan Rupiah di Money Changer, Jakarta, Senin (6/7/2026). (Foto: Bisnis/Himawan L Nugraha)
Jakarta, MISTAR.ID - Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Selasa (22/9/2026), melanjutkan tekanan yang terjadi pada perdagangan sebelumnya.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka di level Rp17.860 per dolar AS, melemah 0,20% dibandingkan posisi penutupan perdagangan Senin (21/9/2026) di level Rp17.830 per dolar AS.
Pada perdagangan Senin, rupiah tercatat melemah 0,56%.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia terpantau stagnan di level 100,425 pada pukul 09.00 WIB. Sebelumnya, DXY menguat 0,21% pada perdagangan Senin.
Pergerakan rupiah hari ini turut dipengaruhi sentimen dari dalam negeri, terutama agenda Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang dimulai Selasa dan berlangsung hingga Rabu (23/9/2026).
BI dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga acuan atau BI Rate pada Rabu. Keputusan tersebut menjadi yang pertama bagi Destry Damayanti setelah dilantik sebagai Gubernur BI definitif pada 2 September 2026.
Konsensus pasar memperkirakan BI mempertahankan BI Rate di level 5,75%. Sementara itu, suku bunga deposit facility dan lending facility juga diperkirakan tetap masing-masing di level 4,75% dan 6,5%.
Pada RDG Agustus 2026, BI mempertahankan BI Rate sebesar 5,75%. Saat itu, Destry yang masih menjabat sebagai Pejabat Sementara Gubernur BI menyebut keputusan tersebut ditujukan untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah gejolak global, mempertahankan inflasi dalam sasaran 2,5% plus-minus 1%, serta mendukung pertumbuhan ekonomi.
Dari eksternal, dolar AS masih mendapat dukungan setelah Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga dan memberikan sinyal adanya peluang pengetatan kebijakan moneter lanjutan.
Mengacu pada CME FedWatch, pasar memperhitungkan peluang sekitar 55% The Fed kembali menaikkan suku bunga pada Oktober. Angka tersebut meningkat dari sekitar 43% pada sepekan sebelumnya. (hm25/ CNBC Indonesia)
PREVIOUS ARTICLE
Pemerintah Siapkan Bensin Campur Etanol 50 PersenNEXT ARTICLE
IHSG Dibuka Menguat 0,12% ke Level 6.392









































