Monday, July 20, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Pengamat: Dampak Lonjakan Kenaikan BBM Secara Global Mulai 'Membakar' Dapur Warga

Mistar.idJumat, 10 April 2026 pukul 20.06 WIB
pengamat_dampak_lonjakan_kenaikan_bbm_secara_global_mulai_membakar_dapur_warga_

Ilustrasi. (foto: Gemini/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Meski pemerintah masih mempertahankan harga BBM bersubsidi, masyarakat diminta tidak lengah.

Lonjakan harga minyak mentah dunia yang menembus 100 Dolar AS per barel telah memicu kenaikan harga BBM di berbagai negara produsen, yang kini dampaknya mulai merambat hingga ke harga kebutuhan pokok di dapur warga Sumatera Utara.

Pengamat Ekonomi dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, menjelaskan bahwa kenaikan biaya energi di negara pengekspor bahan baku pangan secara otomatis akan menaikkan harga jual barang yang masuk ke Indonesia.

Salah satu dampak nyata yang mulai terasa adalah pada sektor peternakan, khususnya sapi bakalan yang didatangkan dari Australia. Berdasarkan hitungan Gunawan, biaya pengiriman dan harga dasar sapi bakalan kini membengkak drastis.

Harga sapi bakalan mencapai Rp71.000 per kg hingga sampai di wilayah Sumut, sementara itu masih ada peternak yang menjual sapi hidup di harga Rp58.000 per kg. Peternak lokal terpaksa menanggung selisih harga tersebut, yang berpotensi memicu kerugian besar pada sektor peternakan rakyat.

"Padahal sebelum Idulfitri kemarin, harga dari peternak masih di kisaran Rp55.000 per kg. Kenaikan biaya di negara asal (Australia) akibat lonjakan BBM di sana telah mendorong kenaikan harga di setiap rantai pasok kita," kata Gunawan, Jumat (10/4/2026).

Kenaikan harga bahan baku ini diprediksi akan mengerek harga di Rumah Potong Hewan (RPH). Gunawan menghitung, harga daging sapi di tingkat pemotongan berpotensi naik dari Rp120.000 menjadi Rp140.000 per kg.

Namun, pedagang eceran di pasar tradisional saat ini menghadapi dilema besar. Jika harga disesuaikan secara normal, harga daging sapi di tangan konsumen seharusnya naik lagi sekitar Rp10.000 hingga Rp15.000 per kg.

"Pedagang belum tentu berani menaikkan harga karena daging sapi sangat elastis terhadap daya beli. Jika terlalu mahal, permintaan akan anjlok. Ini membuktikan bahwa meski BBM kita tidak naik, kenaikan BBM di negara lain tetap menekan ekonomi kita," ucapnya.

Dampak "inflasi impor" ini tidak berhenti pada daging sapi saja. Gunawan memperingatkan sejumlah komoditas lain yang bergantung pada impor juga berada dalam zona merah, misalnya kacang-kacangan (kedelai untuk tempe dan tahu), bahan baku pakan ternak (yang akan berdampak pada harga ayam dan telur), komoditas pangan olahan lainnya yang didatangkan dari luar negeri.

Kondisi ini menjadi peringatan bagi pemerintah daerah di Sumatera Utara untuk memperkuat ketahanan pangan lokal dan mencari alternatif bahan baku dalam negeri guna meminimalisir ketergantungan pada produk impor yang kini harganya kian tak terkendali.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN