Thursday, October 1, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Pemerintah Dorong Produktivitas Tambak Udang Tradisional

Mistar.idKamis, 1 Oktober 2026 pukul 17.13 WIB
pemerintah_dorong_produktivitas_tambak_udang_tradisional

Ilustrasi panen di tambak udang. (Konservasi Indonesia/Eko SiswonoToyudho)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID - Pemerintah mendorong peningkatan produktivitas tambak udang tradisional yang mencakup sekitar 82 persen dari total luas tambak udang di Indonesia untuk memperkuat daya saing industri udang nasional.

Direktur Kelautan dan Perikanan Kementerian PPN/Bappenas Mohamad Rahmat Mulianda mengatakan penguatan tambak tradisional perlu dilakukan melalui perbaikan infrastruktur, dukungan kebijakan pembiayaan, serta penerapan teknologi dan praktik budi daya yang berkelanjutan.

"Penguatan tambak tradisional perlu dilakukan melalui perbaikan infrastruktur, termasuk irigasi pertambakan, dukungan kebijakan pembiayaan, serta penerapan teknologi dan praktik budi daya yang lebih berkelanjutan," ujar Rahmat di Jakarta, Kamis (1/10/2026).

Menurut dia, pemerintah juga mendorong revitalisasi kawasan tambak tradisional agar kegiatan budi daya menjadi lebih produktif sekaligus tetap memperhatikan aspek lingkungan.

Penguatan tambak tradisional dinilai penting karena pangsa pasar udang Indonesia di pasar dunia saat ini baru sekitar 6 persen. Padahal, komoditas udang menjadi salah satu kontributor terbesar ekspor Indonesia.

"Walaupun secara portofolio udang menjadi kontributor ekspor terbesar Indonesia, dalam kaitan market share dunia masih belum optimal," katanya.

Rahmat mengatakan peningkatan daya saing industri udang tidak hanya bergantung pada produktivitas tambak, tetapi juga membutuhkan pengendalian penyakit, penguatan biosekuriti kawasan, penerapan standar operasional budi daya, penggunaan teknologi, serta perbaikan pemasaran.

Pemerintah menargetkan terobosan dalam pengembangan industri udang nasional dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Salah satunya melalui peningkatan produktivitas tambak tradisional dan penguatan tata kelola kawasan budi daya.

Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan daya saing industri udang Indonesia secara berkelanjutan sekaligus memperbesar kontribusinya terhadap ekspor nasional.

Saat ini, Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) bersama Bappenas dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengimplementasikan proyek Towards Sustainable and Conversion-free Aquaculture in Southeast Asia (TOSCA).

Proyek yang didanai Global Environment Facility (GEF) melalui Asian Development Bank (ADB) tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem bisnis budi daya udang yang berkelanjutan dan tidak bergantung pada konversi ekosistem.

TOSCA mendorong pendekatan melalui kebijakan, penelitian, pengembangan kapasitas, serta dukungan pengetahuan untuk meningkatkan daya saing budi daya udang Indonesia.

Pengembangan budi daya udang masih menghadapi sejumlah tantangan lingkungan, seperti konversi ekosistem mangrove menjadi tambak, pencemaran nutrien dan limbah kimia, serta ketergantungan terhadap pakan yang berasal dari ikan tangkapan liar.

ICCTF mencatat hampir 800 ribu hektare ekosistem mangrove telah hilang. Sementara itu, sekitar 600 ribu hektare tambak terbengkalai dan berpotensi mendorong pembukaan lahan baru.

Di sisi lain, pasar global seperti Jepang, Amerika Serikat, dan Uni Eropa semakin memperhatikan aspek keberlanjutan dalam perdagangan produk perikanan. Hal tersebut antara lain ditunjukkan melalui tuntutan sertifikasi dan penerapan praktik produksi yang berkelanjutan. (hm25/antara)




BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN