Investasi 2026 di Tengah Ketidakpastian Global, Ini Instrumen yang Menjanjikan

Ilustrasi. (foto: istimewa/mistar)
Jakarta, MISTAR.ID
Ketidakpastian ekonomi global masih membayangi pergerakan pasar pada 2026. Kondisi ini menuntut investor untuk menerapkan strategi yang lebih terukur agar potensi keuntungan tetap optimal sekaligus mampu mengelola risiko.
Standard Chartered Indonesia kembali menggelar forum tahunan World of Wealth (WoW) untuk ke-23 kalinya di Jakarta. Mengusung tema “Empower Your Journey: Today, Tomorrow, Forever”, forum ini menghadirkan diskusi panel bersama praktisi investasi dan ekonom.
Sejumlah topik strategis dibahas, mulai dari prospek ekonomi global dan regional, peluang investasi lintas kelas aset pada 2026, hingga strategi membangun portofolio yang lebih tangguh di tengah valuasi pasar yang relatif tinggi dan dinamika global yang belum sepenuhnya stabil.
Baca Juga: Emirates Perluas Premium Economy ke 10 Kota Dunia, Dampak Ekonomi Globalnya Tak Terlihat tapi Nyata
Diskusi tersebut merujuk pada laporan Global Market Outlook 2026 – Blowing Bubbles? yang diterbitkan Standard Chartered. Laporan ini menilai bahwa meskipun valuasi sejumlah aset telah meningkat, kondisi pasar saat ini belum menunjukkan ciri-ciri gelembung aset secara sistemik seperti pada periode sebelumnya.
Dalam laporan tersebut, Standard Chartered memproyeksikan bahwa aset berisiko, khususnya ekuitas, masih memiliki peluang mencatat kinerja positif sepanjang 2026. Prospek ini didukung oleh pertumbuhan laba perusahaan, termasuk dari tema struktural seperti adopsi teknologi dan kecerdasan buatan (AI).
Standard Chartered mengidentifikasi tiga tema utama investasi pada 2026, yakni equities dengan fokus pada pasar yang ditopang pertumbuhan laba, income terutama obligasi di negara berkembang yang menawarkan imbal hasil menarik sekaligus diversifikasi, serta diversifiers seperti emas dan strategi alternatif untuk meredam volatilitas portofolio.
Pendekatan tersebut menekankan pentingnya diversifikasi lintas kelas aset dan wilayah, serta penyusunan portofolio yang lebih terstruktur, mencakup komponen core, tactical, dan opportunistic, guna menyeimbangkan potensi imbal hasil dengan manajemen risiko jangka panjang.
“Di tengah kondisi pasar yang menantang, kami tetap optimistis terhadap potensi investasi jangka panjang di Indonesia. Reformasi yang cepat dari regulator serta fokus berkelanjutan pada fundamental ekonomi menjadi fondasi penting bagi pemulihan. Dalam situasi seperti ini, disiplin membangun portofolio dan diversifikasi menjadi kunci agar nasabah mampu menghadapi volatilitas sekaligus tetap fokus pada tujuan jangka panjang,” ujar CEO Standard Chartered Indonesia, Donny Donosepoetro, dalam keterangan tertulis, Jumat (6/2/2026).
Sementara itu, Senior Economist Standard Chartered Indonesia, Aldian Taloputra, memperkirakan perekonomian Indonesia memasuki fase pertumbuhan yang lebih bersifat siklikal. Produk domestik bruto (PDB) Indonesia diproyeksikan tumbuh 5,2% pada 2026, meningkat dari proyeksi 5% pada 2025.
Dari sisi kebijakan moneter, Standard Chartered memperkirakan Bank Indonesia akan tetap bersikap berhati-hati sepanjang 2026, dengan menjaga keseimbangan antara stabilitas eksternal dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi domestik.
BERITA TERPOPULER






















