INET Bangkit Usai Suspensi, Target Harga Melonjak ke Rp1.350 per Saham

Ilustrasi saham INET. (foto:facsekuritas/mistar)
Jakarta, MISTAR.ID
Perdagangan saham PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) kembali bergairah setelah otoritas bursa mencabut status penghentian sementara perdagangan (suspensi) pada Rabu (10/12/2025).
Dibukanya kembali “gembok” perdagangan ini langsung direspons positif oleh pasar, ditandai dengan kenaikan harga signifikan hingga menyentuh batas atas.
Berdasarkan data perdagangan sesi pertama pukul 11.53 WIB, saham INET terpantau melesat ke level Rp850 per lembar saham. Angka ini mencerminkan kenaikan sebesar 75 poin atau 9,68 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp775.
Dalam grafik perdagangan harian, saham ini langsung dibuka menguat di angka Rp850 dan bertahan di level tertinggi tersebut tanpa fluktuasi penurunan. Kapitalisasi pasar perseroan kini tercatat mencapai Rp8,13 triliun.
Pembukaan kembali perdagangan saham dan Waran Seri I (INET-W) dilakukan setelah keduanya disuspensi selama empat hari bursa. Saat ini, mekanisme perdagangan saham INET telah masuk dalam papan pemantauan khusus atau full-call auction (FCA).
Proyeksi Kenaikan Target Harga
Meskipun berada dalam papan FCA, Samuel Sekuritas tetap mempertahankan pandangan positif terhadap emiten teknologi ini. Dalam riset terbarunya, sekuritas tersebut menyematkan rekomendasi speculative buy untuk saham INET.
Target harga bahkan dinaikkan signifikan menjadi Rp1.350 per saham, mengindikasikan potensi kenaikan sebesar 74,2 persen dari harga acuan terakhir sebelum suspensi dicabut.
“Kenaikan target harga ini didasarkan pada perbaikan estimasi laba dan kinerja perusahaan yang kuat, terutama pada kuartal ketiga tahun 2025,” tulis Samuel Sekuritas dalam risetnya, dikutip Rabu (10/12/2025). Optimisme analis didorong oleh fundamental perusahaan yang semakin solid, di mana proyeksi keuntungan dipandang mampu menopang valuasi yang lebih tinggi ke depan.
Rekomendasi tersebut didasarkan pada laporan kinerja keuangan perseroan yang sangat impresif. Hingga kuartal III-2025, INET berhasil mencatatkan pertumbuhan kinerja eksplosif dibandingkan periode sebelumnya.
Dari sisi fundamental, perusahaan membukukan lonjakan laba bersih hingga 818,9 persen secara tahunan (year on year). Capaian ini menunjukkan kemampuan perseroan bertahan dan tumbuh di tengah tantangan pasar.
Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi membuka kembali suspensi perdagangan saham INET di Pasar Reguler dan Pasar Tunai, serta Waran Seri I (INET-W) di seluruh pasar. Pembukaan suspensi tersebut berlaku mulai sesi I perdagangan pada Rabu (10/12/2025).
Keputusan BEI ini disambut positif oleh analis pasar. Samuel Sekuritas Indonesia dalam riset terbarunya mempertahankan rekomendasi Spec-BUY dan menaikkan target harga menjadi Rp1.350 per saham, mencerminkan potensi kenaikan 74,2 persen dari harga penutupan terakhir Rp775. Revisi ini ditopang oleh perbaikan proyeksi laba serta penguatan kinerja perseroan pada kuartal III-2025.
Kinerja Keuangan Melonjak Tajam
Sepanjang sembilan bulan pertama 2025, INET mencatatkan pendapatan Rp68,6 miliar atau tumbuh 190,5 persen YoY. Laba bersih melonjak 818,9 persen menjadi Rp19,4 miliar, setara 86 persen dari estimasi setahun penuh Samuel Sekuritas.
Pertumbuhan pendapatan terutama berasal dari segmen layanan internet (ISP) yang menyumbang Rp67 miliar atau naik 188,4 persen YoY. Peningkatan ini turut didorong oleh lonjakan jumlah pelanggan PT Solusi Sinergi Digital (WIFI), mitra INET, yang bertambah dari 220.000 pelanggan pada Desember 2024 menjadi 1,5 juta pelanggan pada September 2025.
Samuel Sekuritas juga menyoroti peningkatan signifikan pada profitabilitas. Pada kuartal III-2025, INET mencatat gross profit margin (GPM) sebesar 66,3 persen, naik dari 51,6 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Marjin EBITDA melesat menjadi 76,4 persen dari 26,8 persen, dengan nilai EBITDA mencapai Rp18 miliar atau tumbuh 728,8 persen YoY.
Rencana Ekspansi dan Pendanaan
Perseroan menyiapkan rencana ekspansi besar yang membutuhkan pendanaan sekitar Rp4,2 triliun. Dana tersebut akan dihimpun melalui rights issue sebesar Rp3,2 triliun pada 2025 (menunggu persetujuan OJK), dan penerbitan obligasi senilai Rp1 triliun pada 2026.
Pendanaan ini akan dialokasikan untuk pembangunan kabel bawah laut, proyek Fiber To The Home (FTTH), layanan internet berbasis node, serta akuisisi PT Personel Alih Daya Tbk (PADA) dan PT Trans Hybrid Communication (THC) guna memperkuat kapasitas kontraktor FTTH dan managed services.
Dengan dukungan ekspansi tersebut, proyeksi laba INET ke depan diperkirakan semakin agresif. Pada 2026, laba bersih diproyeksikan mencapai Rp257 miliar atau tumbuh 849,2 persen YoY, dan melonjak menjadi Rp736 miliar pada 2027 atau tumbuh 185,7 persen YoY. Target harga Rp1.350 per saham mengacu pada valuasi EV/EBITDA 2027F di kisaran 25 kali.
INET disebut sebagai salah satu operator ISP dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia, seiring meningkatnya kebutuhan internet berkecepatan tinggi untuk pekerjaan, hiburan, dan kebutuhan rumah tangga.
Meski demikian, sejumlah risiko tetap perlu dicermati, seperti potensi keterlambatan ekspansi, pertumbuhan pelanggan yang tidak sesuai proyeksi, serta tekanan daya beli masyarakat. Pada 2026, pendapatan INET diperkirakan mencapai Rp942 miliar atau tumbuh 284 persen YoY, dengan marjin EBITDA diproyeksikan berada pada kisaran 66–70 persen. (hm16)
BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER




















