Monday, June 8, 2026
home_banner_first
EKONOMI

IHSG Anjlok 3,57 Persen ke Level 5.395, Investor Dibayangi Konflik Iran-Israel dan Pelemahan Rupiah

Mistar.idSenin, 8 Juni 2026 09.32
journalist-avatar-top
ihsg_anjlok_357_persen_ke_level_5395_investor_dibayangi_konflik_iranisrael_dan_pelemahan_rupiah

Ilustrasi IHSG anjlok 3,57 persen (Foto: Istimewa/Mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah tajam pada perdagangan Senin (8/6/2026). Indeks acuan Bursa Efek Indonesia itu turun 199,70 poin atau 3,57 persen ke level 5.395,07 pada sesi awal perdagangan.

Tekanan jual terjadi hampir di seluruh sektor pasar. Sebanyak 497 saham tercatat mengalami penurunan, sementara hanya 73 saham yang menguat dan 389 saham bergerak stagnan.

Aktivitas perdagangan terbilang cukup tinggi pada awal sesi. Nilai transaksi mencapai Rp885,8 miliar dengan volume perdagangan sebanyak 1,05 miliar saham dari lebih dari 101 ribu transaksi.

Konflik Iran-Israel Guncang Sentimen Pasar

Pelemahan IHSG tidak terlepas dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Investor global melakukan aksi penghindaran risiko setelah Iran dilaporkan meluncurkan serangan rudal ke Israel pada akhir pekan.

Peristiwa tersebut memicu kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan serta potensi gangguan pasokan energi dunia. Situasi semakin sensitif karena serangan terjadi di tengah upaya menjaga gencatan senjata yang sebelumnya disepakati.

Ketegangan geopolitik membuat investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar Amerika Serikat.

Dolar AS Menguat, Rupiah Tertekan

Di saat yang sama, indeks dolar AS kembali menguat hingga menembus level 100,069 atau tertinggi sejak akhir Maret 2026. Penguatan dolar menandakan meningkatnya permintaan terhadap mata uang Amerika Serikat di tengah ketidakpastian global.

Kondisi tersebut memberi tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Dalam sepekan terakhir, nilai tukar rupiah bahkan sempat menyentuh level Rp18.000 per dolar AS.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menjelaskan bahwa pelemahan rupiah masih dipengaruhi oleh eskalasi konflik Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia dan meningkatkan risiko inflasi global.

Selain itu, kebutuhan dolar AS di dalam negeri juga masih tinggi seiring dengan repatriasi dividen perusahaan dan pembayaran utang luar negeri.

Defisit APBN Masih Jadi Sorotan Investor

Dari dalam negeri, perhatian investor juga tertuju pada kondisi fiskal nasional. Pemerintah melaporkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Mei 2026 mencapai Rp180,4 triliun atau setara 0,70 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Angka tersebut sedikit meningkat dibandingkan posisi akhir April 2026 yang berada di level Rp164,4 triliun atau 0,64 persen dari PDB.

Meski demikian, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa kondisi APBN masih berada dalam jalur yang sehat dan sesuai dengan desain fiskal tahun 2026. Pemerintah juga memastikan pembiayaan anggaran tetap dikelola secara hati-hati dan fleksibel mengikuti perkembangan pasar keuangan global.

Investor Waspadai Risiko Global

Pelaku pasar saat ini masih mencermati perkembangan konflik Iran-Israel, pergerakan harga minyak dunia, arah kebijakan suku bunga global, serta stabilitas nilai tukar rupiah.

Kombinasi faktor eksternal dan domestik tersebut berpotensi membuat volatilitas pasar saham Indonesia tetap tinggi dalam jangka pendek. Jika ketegangan geopolitik terus meningkat dan dolar AS bertahan kuat, tekanan terhadap IHSG diperkirakan masih akan berlanjut.

Sementara itu, investor menunggu langkah lanjutan pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas pasar keuangan nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN