Gencatan Senjata Buyar, Rupiah Anjlok ke Rp18.160 per Dolar AS, IHSG Ikut Terpuruk

Ilustrasi, Gencatan Senjata Buyar, Rupiah Anjlok ke Rp18.160 per Dolar AS, IHSG Ikut Terpuruk. (foto:ferry/gemini/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Awan hitam semakin pekat menyelimuti pasar keuangan domestik pada pembukaan pekan ini. Harapan pelaku pasar akan adanya gencatan senjata di Timur Tengah dipastikan pudar, memicu kepanikan massal yang membuat nilai tukar rupiah kian terpuruk dan memperpanjang tren pelemahan ke level terendah baru.
Berdasarkan data perdagangan di pasar spot pada Senin (8/6/2026), mata uang rupiah langsung merosot ke posisi Rp18.160 per dolar Amerika Serikat (AS).
Ambruknya kurs Garuda ini terjadi secara simultan dengan jatuhnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta koreksi tajam pada harga emas batangan domestik.
Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, memaparkan bahwa eskalasi militer yang meluas menjadi bahan bakar utama yang merontokkan aset-aset keuangan di kawasan Asia.
Baca Juga: Ekonom Prediksi Rupiah Bisa Tembus Rp25.000 per Dolar AS pada Akhir 2026, Ini Penyebabnya
Gunawan menjelaskan, sentimen negatif utama bersumber dari runtuhnya ruang diplomasi di Timur Tengah. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran justru memasuki babak baru yang lebih berbahaya dan memicu kecemasan terjadinya perang regional yang masif.
"Pelaku pasar saat ini dihadapkan pada kondisi di mana gencatan senjata yang sebelumnya digaungkan sebagai jalan keluar perang Iran-AS saat ini pudar setelah Iran melakukan serangan ke Israel. Aksi saling serang kedua belah pihak kembali terjadi," kata Gunawan, Senin (8/6/2026) pagi.
Dampak dari kecemasan geopolitik ini membuat bursa saham di Asia kembali mengalami tekanan hebat. IHSG pada sesi pembukaan perdagangan pagi ini langsung terjun bebas, melemah ke level 5.486 setelah pada pekan lalu sempat bertahan di kisaran level 5.800.
Selain faktor eksternal, fokus perhatian investor sepanjang hari ini akan tertuju pada rilis sejumlah indikator ekonomi makro dalam negeri yang krusial.
Data cadangan devisa (cadev) Indonesia periode terbaru yang akan dikeluarkan Bank Indonesia (BI) pada sesi perdagangan pertama diproyeksikan menjadi sentimen penggerak utama yang menentukan arah pergerakan rupiah maupun IHSG selanjutnya.
Selain itu, pasar juga menanti rilis data indeks kepercayaan konsumen, angka penjualan kendaraan bermotor, hingga performa penjualan ritel nasional.
"Pelemahan rupiah ke level Rp18.100 per dolar AS pagi ini juga terjadi di saat kinerja USD Index dan imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun kompak mengalami kenaikan. USD Index saat ini kokoh berada di posisi 100, sementara imbal hasil US Treasury 10 tahun merangkak naik ke atas level 4,5 persen," ucap Gunawan.
Situasi pasar ke depan diprediksi akan semakin dinamis seiring dengan rencana rilis data inflasi dari dua kekuatan ekonomi terbesar dunia, yakni Amerika Serikat dan Tiongkok, pada pekan ini.
Jika realisasi angka inflasi dari kedua negara tersebut kembali menunjukkan peningkatan, maka spekulasi pasar mengenai tren kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Sentral AS (The Fed) akan kembali mencuat.
Hal ini tentu menjadi tekanan tambahan bagi Bank Indonesia yang saat ini juga sedang menimbang opsi untuk menaikkan suku bunga acuan dalam waktu dekat demi membentengi rupiah.
Kombinasi antara pelarian modal ke aset aman (flight to quality) akibat perang dan ekspektasi tingginya suku bunga global membuat otoritas moneter dalam negeri harus bersiap meluncurkan intervensi ganda (double intervention) di pasar valas dan obligasi guna meredam volatilitas kurs agar tidak mengganggu stabilitas ekonomi riil. (hm27)
BERITA TERPOPULER





















