Monday, June 8, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Rupiah Tembus Rp18.100 per Dolar AS, Presma Unimed Desak Pemerintah Evaluasi Kebijakan Ekonomi

Mistar.idSenin, 8 Juni 2026 09.54
journalist-avatar-top
MA
rupiah_tembus_rp18100_per_dolar_as_presma_unimed_desak_pemerintah_evaluasi_kebijakan_ekonomi

Presiden Mahasiswa (Presma) Universitas Negeri Medan (Unimed), Muhammad Ade Ikhsani saat memberikan keterangan pada Mistar beberapa waktu lalu di depan Gedung DPRD Sumut. (Foto: Ari/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Presiden Mahasiswa (Presma) Universitas Negeri Medan (Unimed), Muhammad Ade Ikhsani, menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah yang kembali menyentuh titik terlemah dalam beberapa waktu terakhir. Pasalnya, hingga hari ini nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mencapai Rp18.100.

Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Unimed itu mengingatkan pemerintah agar segera mengambil langkah konkret untuk menjaga stabilitas ekonomi dan memastikan masyarakat tidak menjadi pihak yang paling dirugikan.

Menurutnya, pelemahan rupiah bukan hanya persoalan angka di pasar keuangan, melainkan kondisi yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat sehari-hari.

“Di balik setiap pelemahan rupiah, ada masyarakat yang harus menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya hidup yang semakin tinggi, dan ketidakpastian ekonomi yang terus membayangi,” ujarnya kepada Mistar, Senin (8/6/2026).

Ia mengakui pemerintah saat ini tengah menjalankan berbagai program strategis yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, menurutnya, pelaksanaan program-program tersebut harus tetap dibarengi dengan upaya menjaga stabilitas ekonomi nasional.

“Tujuan yang baik tidak boleh membuat pemerintah mengabaikan satu hal yang sama pentingnya, yaitu menjaga stabilitas ekonomi dan kepercayaan publik terhadap kondisi fiskal negara,” katanya.

Ia menilai masyarakat berhak mempertanyakan penyebab terus melemahnya nilai tukar rupiah. Ia meminta pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap arah kebijakan ekonomi yang diterapkan.

“Ketika rupiah terus mengalami tekanan, publik berhak bertanya. Apakah kondisi ini semata-mata disebabkan faktor global atau ada persoalan dalam arah kebijakan ekonomi yang perlu dievaluasi secara serius?” ucapnya.

Menurutnya, dampak pelemahan rupiah paling besar dirasakan oleh masyarakat kecil yang setiap hari harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup, bukan oleh kelompok pemilik modal besar.

Karena itu, ia meminta Presiden Prabowo Subianto beserta jajaran pemerintah menjadikan kondisi tersebut sebagai peringatan untuk memperkuat kebijakan ekonomi nasional.

“Keberhasilan sebuah program tidak hanya diukur dari seberapa besar anggaran yang digelontorkan, tetapi juga dari kemampuan pemerintah menjaga stabilitas ekonomi agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa masyarakat membutuhkan kebijakan yang mampu memberikan kepastian di tengah meningkatnya tekanan ekonomi.

“Rakyat tidak bisa terus diminta bersabar dan optimistis tanpa disertai kepastian. Ketika rupiah melemah, ketika harga-harga naik, ketika biaya hidup semakin berat, yang dibutuhkan rakyat adalah kebijakan yang mampu menjawab persoalan, bukan sekadar narasi yang menenangkan,” ujarnya.

Lebih jauh, ia berharap program-program besar yang digagas pemerintah tidak kehilangan manfaat akibat tekanan ekonomi yang terus berlanjut. Pasalnya, ia menilai hal tersebut sangat berimbas pada kesejahteraan masyarakat kecil.

“Jangan sampai program-program besar yang digagas untuk menyejahterakan rakyat justru dibayangi oleh melemahnya kondisi ekonomi. Sebab, jika stabilitas ekonomi terganggu, rakyatlah yang pertama merasakan dampaknya dan rakyat pula yang pada akhirnya harus menanggung harganya,” tuturnya. (hm27)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN