Ekonom Prediksi Rupiah Bisa Tembus Rp25.000 per Dolar AS pada Akhir 2026, Ini Penyebabnya

Ilustrasi uang (Foto: Istimewa/Mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan berat hingga akhir tahun 2026. Ekonom Ferry Latuhihin memproyeksikan mata uang Garuda berpotensi melemah hingga mencapai level Rp25.000 per dolar Amerika Serikat (AS) apabila berbagai risiko ekonomi tidak segera diantisipasi.
Menurut Ferry, pelemahan rupiah yang terjadi saat ini tidak semata-mata dipengaruhi faktor eksternal seperti ketegangan geopolitik global maupun kebijakan suku bunga AS. Ia menilai persoalan yang lebih dominan justru berasal dari faktor domestik yang memengaruhi kepercayaan pasar.
Ferry menyoroti kinerja rupiah yang terus melemah terhadap sejumlah mata uang regional. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak hanya dipicu oleh penguatan dolar AS, melainkan juga karena sentimen investor terhadap kondisi ekonomi dalam negeri.
Ia memperkirakan nilai tukar rupiah dapat mencapai Rp20.000 per dolar AS pada Juni 2026, meningkat menjadi Rp22.000 pada Juli, dan berpotensi menyentuh Rp25.000 per dolar AS menjelang akhir tahun.
Menurutnya, hingga saat ini belum terlihat langkah mitigasi risiko yang cukup kuat, baik dari sisi kebijakan moneter maupun fiskal. Situasi tersebut membuat pelaku pasar tetap berhati-hati dalam menempatkan investasi di Indonesia.
Selain itu, Ferry menilai perubahan pandangan lembaga pemeringkat internasional terhadap Indonesia serta sejumlah kebijakan yang dianggap menciptakan ketidakpastian turut memperburuk sentimen pasar.
Ia menegaskan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah membangun kembali kepercayaan investor. Tanpa kepercayaan yang kuat, berbagai kebijakan pemerintah berisiko tidak memperoleh respons positif dari pasar keuangan.
Ferry juga menilai kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia belum tentu mampu mengembalikan arus modal asing secara signifikan. Investor disebut masih mempertimbangkan berbagai risiko ekonomi domestik sebelum menambah eksposur investasi di Indonesia.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik di Timur Tengah dinilai dapat memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah. Jika harga minyak terus meningkat hingga kisaran US$110–120 per barel, beban fiskal pemerintah berpotensi bertambah dan memperbesar risiko terhadap stabilitas ekonomi.
Sementara itu, pemerintah tetap optimistis terhadap kondisi ekonomi nasional. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi kuat.
Menurutnya, sejumlah indikator ekonomi seperti pertumbuhan ekonomi dan tingkat inflasi yang relatif terkendali menjadi bukti bahwa perekonomian nasional masih memiliki daya tahan yang baik di tengah tekanan global.
Pemerintah bersama Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) disebut terus melakukan koordinasi untuk memantau perkembangan pasar serta menyiapkan langkah-langkah yang diperlukan guna menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar rupiah.
BERITA TERPOPULER
























