BI Buka Suara soal Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Siapkan Intervensi Intensif

Bank Indonesia (BI) angkat suara terkait pelemahan kurs rupiah yang menembus level Rp18.000 per dolar AS (Foto: CNBC Indonesia).
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Bank Indonesia (BI) memberikan penjelasan terkait pelemahan nilai tukar rupiah yang kembali menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat. Kondisi tersebut menjadi perhatian pasar setelah mata uang Garuda mencatatkan posisi terlemah sepanjang sejarah pada perdagangan awal Juni 2026.
Pada perdagangan Kamis pagi, rupiah dibuka di level Rp18.016 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan eksternal yang memengaruhi pasar keuangan global, khususnya negara-negara berkembang.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa salah satu faktor utama yang menekan rupiah adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Konflik yang kembali memanas dinilai memperburuk prospek perdamaian dan memicu ketidakpastian di pasar internasional.
Menurut BI, situasi geopolitik tersebut berdampak pada tetap tingginya harga minyak dunia. Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global sehingga mendorong investor mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman.
Selain faktor global, Bank Indonesia juga mencatat tingginya kebutuhan valuta asing di dalam negeri. Permintaan dolar AS berasal dari berbagai kebutuhan korporasi, termasuk repatriasi dividen dan pembayaran kewajiban utang luar negeri yang jatuh tempo.
Untuk menjaga stabilitas pasar keuangan, BI memastikan akan terus hadir melalui berbagai instrumen intervensi. Langkah tersebut dilakukan guna memastikan pergerakan nilai tukar tetap sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia.
Bank sentral akan meningkatkan intervensi melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Selain intervensi langsung di pasar valuta asing, BI juga memperkuat daya tarik instrumen keuangan domestik melalui kebijakan suku bunga yang lebih kompetitif. Strategi ini diharapkan dapat menjaga aliran modal asing tetap masuk ke pasar Indonesia.
Di sisi lain, Bank Indonesia terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan internasional melalui skema Local Currency Transaction (LCT). Program tersebut bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam aktivitas perdagangan dan investasi lintas negara.
Saat ini kerja sama LCT telah diterapkan dengan sejumlah negara mitra, termasuk China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab. Pemanfaatan skema tersebut terus meningkat dan menjadi salah satu strategi jangka panjang untuk memperkuat stabilitas nilai tukar.
Meski rupiah mengalami tekanan, BI menilai pelemahan yang terjadi masih sejalan dengan tren yang dialami mata uang negara berkembang lainnya di kawasan Asia. Bank sentral juga menegaskan bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia tetap cukup kuat untuk menghadapi gejolak global.
Keyakinan tersebut didukung oleh posisi cadangan devisa Indonesia yang masih berada pada level tinggi. Hingga akhir April 2026, cadangan devisa tercatat mencapai sekitar 146,2 miliar dolar AS, yang dinilai memadai untuk mendukung stabilitas sektor eksternal dan pasar keuangan.
Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, pelaku pasar, dan sektor korporasi guna menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Langkah tersebut diharapkan mampu meredam tekanan terhadap rupiah sekaligus menjaga kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia.
BERITA TERPOPULER























