Wednesday, June 24, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Harga Telur di Tingkat Peternak Merosot, Produksi Melimpah Tak Terserap Maksimal

Mistar.idJumat, 8 Mei 2026 pukul 14.49 WIB
harga_telur_di_tingkat_peternak_merosot_produksi_melimpah_tak_terserap_maksimal

Ilustrasi telur ayam yang dijual ritel. (foto: istimewa/mistar)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID

Harga telur ayam di tingkat peternak terus mengalami penurunan dalam beberapa waktu terakhir di tengah kondisi produksi nasional yang melimpah. Kalangan peternak menilai minimnya penyerapan telur untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut memperburuk jatuhnya harga di pasaran.

Presidium PINSAR Petelur Nasional, Yudianto Yosgiarso, mengatakan produksi telur nasional saat ini berada dalam kondisi surplus. Produksi disebut mencapai sekitar 18 ribu ton atau setara 280 juta butir telur per hari.

Menurutnya, tingginya produksi tidak diimbangi dengan penyerapan pasar yang memadai, sementara daya beli masyarakat juga sedang melemah.

“Kita sudah swasembada, produksi melimpah, tetapi serapannya rendah dan daya beli masyarakat turun. Akibatnya stok menumpuk dan harga telur jatuh,” ujar Yudianto di Solo dikutip dari Detikjateng, Jumat (8/5/2026).

Ia menyebut harga telur di tingkat kandang kini turun dari sekitar Rp26.500 per kilogram menjadi Rp21 ribu per kilogram. Harga tersebut bahkan diklaim sudah berada di bawah biaya produksi peternak.

Yudianto menambahkan program MBG yang sebelumnya diharapkan dapat mendongkrak permintaan telur ternyata belum memberikan dampak signifikan terhadap penyerapan hasil produksi peternak.

“Harapan kami MBG bisa membantu menyerap produksi, tetapi kenyataannya justru berkurang. Kondisi itu membuat harga telur langsung turun hingga Rp21 ribu per kilogram,” katanya.

Di tengah turunnya harga jual, peternak juga harus menghadapi kenaikan biaya produksi, terutama harga pakan ternak yang disebut sudah mengalami kenaikan dua kali.

Keluhan serupa disampaikan Pengurus PINSAR, Suwardi. Ia menyoroti alasan kejenuhan anak sekolah mengonsumsi telur dalam program MBG yang dinilai ikut memengaruhi rendahnya serapan telur.

Menurutnya, program tersebut seharusnya tetap berjalan optimal karena bertujuan meningkatkan gizi anak sekaligus membantu menyerap hasil produksi peternak nasional.

“Program ini bukan hanya soal gizi anak menuju Indonesia Emas, tetapi juga mendukung peternak rakyat. Kalau telur tidak dimakan, tentu penyerapannya menjadi rendah,” ujarnya.

Salah satu usulan yang diajukan ialah memperluas penggunaan telur dalam program MBG menjadi dua kali dalam sepekan serta mengaktifkan kembali program penanganan stunting agar stok telur di pasaran dapat terserap lebih baik.

Peternak juga berencana mengirim surat kepada Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan agar pemerintah segera turun tangan mengatasi persoalan tersebut.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN