Harga Ayam Tembus Rp50.000, Pengamat Ingatkan Ancaman Inflasi

Penjual ayam di salah satu pasar Kota Medan. (Foto: Amita/Mistar)
Medan, MISTAR.ID - Lonjakan harga daging ayam potong belakangan ini yang menyentuh Rp47.000 hingga Rp50.000 per kilogram (kg) bukan hanya angka di pasar.
Situasi ini memicu efek domino yang menggerus daya beli masyarakat, khususnya kelompok rentan dan menengah ke bawah, serta mengguncang stabilitas ekonomi daerah.
Pengamat Ekonomi Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara, Sunarji Harahap, membedah dampak ekonomi makro dari situasi tersebut. Ia mengatakan, daging ayam merupakan komoditas pangan strategis yang menentukan kestabilan ekonomi.
"Kenaikan harga yang terbilang tinggi menjadi pemicu naiknya inflasi di Sumatera Utara yang sempat menyentuh 3,19 persen, atau melampaui ambang batas target stabilitas normal yang ditetapkan pemerintah," katanya, Jumat (25/9/2026).
Dari kacamata dunia usaha, situasi ini menggempur pedagang pasar dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Tingginya harga modal dari distributor membuat pedagang eceran terpaksa menaikkan harga jual, sehingga berujung pada anjloknya penjualan secara drastis.
"Pelaku UMKM kuliner di Kota Medan, seperti pedagang warung makan dan olahan ayam, tertekan karena terpaksa mengorbankan margin keuntungan demi menjaga pelanggan agar tidak kabur," ucapnya.
Sunarji juga menyoroti dampak terhadap pertumbuhan sektor ritel dan konsumsi secara umum. Ketika porsi anggaran rumah tangga lebih besar untuk memenuhi kebutuhan pangan harian, pengeluaran masyarakat untuk nonpangan otomatis akan dipangkas.
Secara makro, pergeseran pola belanja ini akan memperlambat perputaran ekonomi di sektor ritel lainnya. Menurutnya, deretan masalah ini mengindikasikan distorsi struktural pada rantai pasok dari hulu ke hilir, mulai dari mahalnya harga pakan ternak impor hingga panjangnya jalur keagenan atau makelar.
Sunarji juga menyoroti dampak sosial yang menghantam keseharian masyarakat berpenghasilan rendah. Alokasi uang belanja bulanan saat ini tidak cukup untuk memenuhi kuantitas pangan seperti dulu.
"Daging ayam ini salah satu sumber protein hewani yang terjangkau. Kalau mahal, justru membuat keluarga mengurangi asupan protein harian. Kalau dibiarkan, akan mengancam pemenuhan gizi anak-anak dan berpotensi stunting," ujarnya.
Keresahan di kalangan ibu rumah tangga pun tak terhindarkan. Ketidakpastian harga pangan berbanding lurus dengan naiknya rasa tidak aman secara ekonomi di tingkat keluarga.
Maka dari itu, Sunarji mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah intervensi taktis. Pemerintah dituntut menggelar operasi pasar besar-besaran dan menggencarkan Gerakan Pangan Murah (GPM) yang menyasar titik-titik pasar utama untuk menstabilkan harga dan menenangkan kepanikan warga. (hm25)
PREVIOUS ARTICLE
Starbucks Tutup 250 Gerai di AS dan Kanada Pekan Ini









































