Thursday, June 4, 2026
home_banner_first
EKONOMI

BI Ungkap Penyebab IHSG Anjlok 8 Persen

Mistar.idKamis, 29 Januari 2026 11.24
EH
bi_ungkap_penyebab_ihsg_anjlok_8_persen

Pengunjung di depan layar pergerakan harga saham (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (28/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan signifikan usai penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan perubahan metodologi perhitungan free float atau porsi saham yang dapat diperdagangkan di pasar. Dampak pengumuman tersebut bahkan mendorong Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan trading halt setelah IHSG sempat merosot hingga 8 persen.

Pelemahan tajam ini dipicu aksi jual investor yang dilandasi kepanikan pasar. Pasalnya, sejumlah saham berkapitalisasi besar Indonesia tercatat masuk dalam indeks global MSCI sehingga langsung terdampak sentimen tersebut.

Salah satunya saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang pada perdagangan kemarin melemah 6,33 persen ke level Rp7.025 per saham.

Tekanan juga terjadi pada saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang tercatat turun 15 persen ke harga Rp98.600 per lembar. Penurunan harga saham-saham tersebut dipicu oleh aksi jual bersih atau net sell.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Iman Rachman menjelaskan, gejolak pasar terjadi karena investor merespons kebijakan pembekuan rebalancing indeks MSCI terhadap saham-saham Indonesia. Pembekuan penyesuaian komposisi tersebut berlaku untuk periode Februari hingga Mei 2026.

“Apa yang terjadi hari ini menurut saya dipicu panic selling. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah rebalancing Februari yang dibekukan. Artinya, tidak ada penambahan maupun pengurangan emiten Indonesia dalam indeks MSCI,” ujar Iman di Gedung BEI, Jakarta Selatan, Rabu (28/1/2026), dilansir dari detikFinance.

Selain itu, MSCI juga membuka kemungkinan penurunan klasifikasi pasar modal Indonesia. Jika hingga Mei tidak terdapat perbaikan yang dinilai memadai, BEI berpotensi diturunkan dari kategori Emerging Market menjadi Frontier Market.

“Dengan kondisi tersebut, Indonesia bisa berada pada level yang sama dengan Vietnam dan Filipina. Padahal saat ini kita masih berada dalam kelompok emerging market bersama Malaysia,” ucapnya. (hm20)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN