Thursday, June 4, 2026
home_banner_first
EDUKASI

Sembilan Tanda Ayah Bersikap Toxic, Ini Dampaknya pada Anak

Mistar.idKamis, 11 Desember 2025 05.30
AN
sembilan_tanda_ayah_bersikap_toxic_ini_dampaknya_pada_anak_

Ilustrasi. (Foto: Theasianparent)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Tidak semua hubungan antara anak dan orang tua berjalan harmonis. Dalam beberapa kasus, perilaku seorang ayah dapat berkembang menjadi toxic, terutama jika berlangsung terus-menerus dan membuat anak merasa tidak berharga, lelah secara emosional, atau selalu disalahkan.

Terapis Irina Firstein, seperti dikutip dari PureWow, menjelaskan perilaku toxic adalah tindakan yang membuat orang lain merasa buruk tentang hidup dan dirinya sendiri. Pola tersebut umumnya ditandai dengan kritik berlebihan, kontrol, manipulasi, dan penanaman rasa bersalah.

Berikut sembilan tanda yang menunjukkan seseorang mungkin sedang berhadapan dengan ayah yang toxic:

1. Sering Membandingkan Anak dengan Saudara Kandung

Ayah yang terus membandingkan anak dengan saudara lain untuk merendahkan atau membuatnya merasa kurang, termasuk perilaku toxic. Menurut Firstein, pola ini merupakan bentuk kritik yang dapat memicu rasa tidak aman dan merusak hubungan antar saudara.

2. Tidak Menghargai Batasan

Ayah yang toxic kerap mengabaikan batasan pribadi, seperti datang tanpa pemberitahuan atau menuntut perhatian setiap saat. Meski sudah dijelaskan, batasan tetap dilanggar, menunjukkan kurangnya penghormatan terhadap privasi dan kemandirian anak.

3. Selalu Ingin Benar

Jika setiap keputusan anak dinilai salah mulai dari pasangan, pekerjaan, hingga pertemanan, hal ini menunjukkan pola kontrol berlebihan. “Kontrol adalah ciri utama perilaku toxic,” ujar Firstein.

4. Menguras Emosi Anak

Interaksi yang selalu membuat anak kehabisan energi merupakan tanda lain. Drama, keluhan berlebih, serta tuntutan emosional dapat menyedot energi mental dan membuat anak merasa tidak memiliki ruang untuk dirinya sendiri.

5. Memposisikan Diri sebagai Korban

Manipulasi melalui rasa bersalah sering digunakan dalam hubungan toxic. Ayah yang memutarbalikkan keadaan agar tampak sebagai korban misalnya merajuk berhari-hari karena anak berlibur dengan teman menggunakan cara tidak sehat untuk mengontrol anak.

6. Berkompetisi dengan Anak

Alih-alih bangga, ayah yang toxic dapat merasa tersaingi oleh pencapaian anak. Setiap keberhasilan anak kerap dialihkan menjadi cerita mengenai pencapaiannya sendiri, membuat anak merasa pencapaiannya tidak pernah cukup.

7. Membuat Segalanya Tentang Dirinya

Jika setiap percakapan selalu berfokus pada dirinya, bahkan ketika anak sedang membutuhkan dukungan, hubungan menjadi berat sebelah. Kurangnya ketertarikan ayah terhadap kehidupan anak menandakan pola komunikasi yang tidak sehat.

8. Memberi Syarat atas Setiap Bantuan

Ayah toxic sering memberikan bantuan dengan imbalan tertentu. Setelah membantu, ia mengungkitnya kembali atau menuntut balasan yang tidak wajar. Hubungan sehat seharusnya tidak membuat anak merasa berutang secara emosional.

9. Mustahil Memenuhi Keinginannya

Anak mungkin merasa selalu gagal meski sudah berusaha menjadi yang terbaik. “Dalam banyak kasus, masalahnya bukan pada anak, tetapi pada standar tidak realistis yang ia tetapkan,” kata Firstein.

Para ahli menyarankan agar individu yang mengalami pola toxic dalam hubungan keluarga mencari dukungan profesional dan membangun batasan yang sehat guna menjaga kesejahteraan emosional. (hm25)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN