Tuesday, July 14, 2026
home_banner_first
EDUKASI

Puasa Dzulhijjah Tak Harus Sembilan Hari Penuh, Ini Penjelasan dan Keutamaannya

Mistar.idSenin, 25 Mei 2026 pukul 09.19 WIB
puasa_dzulhijjah_tak_harus_sembilan_hari_penuh_ini_penjelasan_dan_keutamaannya

Ilustrasi. (foto: Pixabay/Mistar)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID

Memasuki sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal ibadah, salah satunya menjalankan puasa sunnah sebelum Hari Raya Iduladha.

Puasa sunnah Dzulhijjah dilaksanakan mulai 1 hingga 9 Dzulhijjah, sebab pada tanggal 10 Dzulhijjah umat Islam dilarang berpuasa karena bertepatan dengan Hari Raya Kurban.

Namun, masih banyak masyarakat yang bertanya-tanya apakah puasa Dzulhijjah harus dilakukan penuh selama sembilan hari dan wajib berurutan.

Ternyata, pelaksanaan puasa sunnah ini memiliki kelonggaran sesuai kemampuan masing-masing muslim. Artinya, seseorang tidak diwajibkan menjalankan puasa sembilan hari penuh apabila tidak sanggup.

Ustaz Muhammad Nuzul Dzikri mengatakan umat Islam diperbolehkan berpuasa sesuai kemampuan, meski hanya beberapa hari saja.

“Kalau tidak mampu sembilan hari penuh, bisa delapan, tujuh, atau enam hari. Kalau tidak bisa juga, minimal satu hari jangan sampai terlewat,” ujar Ustaz Nuzul Dzikri dalam tayangan akun Instagram @muhammadnuzuldzikri.

Jika hanya mampu satu hari, maka puasa yang paling dianjurkan adalah Puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah. Puasa ini memiliki keutamaan besar karena dipercaya dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.

Selain itu, puasa Dzulhijjah juga tidak wajib dilakukan secara berurutan. Mengutip penjelasan NU Online, karena hukumnya sunnah, umat Islam boleh memilih hari tertentu di antara tanggal 1 hingga 9 Dzulhijjah untuk berpuasa.

Meski demikian, mayoritas ulama dari mazhab Syafi’i tetap menilai puasa sembilan hari penuh secara berturut-turut sebagai amalan yang paling utama bagi muslim yang tidak sedang menunaikan ibadah haji.

Sementara bagi jemaah haji, terdapat aturan berbeda. Puasa pada tanggal 8 dan 9 Dzulhijjah atau Hari Tarwiyah dan Hari Arafah tidak dianjurkan bagi mereka yang sedang berhaji. Alasannya, jemaah haji disarankan menjaga kondisi fisik agar lebih kuat menjalani wukuf dan memperbanyak doa.

Dalam pelaksanaannya, niat puasa Dzulhijjah boleh dilakukan sejak malam hari. Namun apabila lupa, niat masih diperbolehkan diucapkan pada pagi hingga sebelum waktu zuhur, selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar.

Bagi umat Islam yang masih memiliki utang puasa Ramadan, diperbolehkan menggabungkan qada puasa dengan puasa sunnah Dzulhijjah. Sebagian ulama berpendapat pelakunya tetap mendapatkan pahala sunnah sekaligus pahala qada.

Puasa pada awal bulan Dzulhijjah memiliki banyak keutamaan. Rasulullah SAW menyebut tidak ada hari yang lebih dicintai Allah untuk beribadah selain sepuluh hari pertama Dzulhijjah.

Selain pahala yang dilipatgandakan, Puasa Arafah juga menjadi salah satu amalan yang diyakini dapat menghapus dosa-dosa kecil selama dua tahun. Hari Arafah bahkan disebut sebagai hari ketika Allah paling banyak membebaskan hamba-Nya dari siksa neraka.

Kelonggaran dalam pelaksanaan puasa Dzulhijjah menunjukkan bahwa Islam memberikan kemudahan bagi umatnya dalam beribadah. Karena itu, umat Islam tetap dianjurkan mengambil kesempatan meraih pahala di hari-hari istimewa tersebut sesuai kemampuan masing-masing.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN