Mahasiswa UINSU Raih Medali Emas pada Ajang Inovasi dan Teknologi di Malaysia

M Mashduqi Rifa’i menunjukkan medali emas yang diraihnya pada ajang WYIE 2026 di Malaysia. (foto: istimewa/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Mahasiswa Program Studi (Prodi) Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam (FUSI) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), M Mashduqi Rifa’i, 21 tahun, berhasil meraih medali emas dalam ajang internasional World Young Inventors Exhibition (WYIE) 2026 yang digelar di Kuala Lumpur Convention Centre (KLCC), Malaysia.
Prestasi tersebut menjadi sorotan karena diraih oleh mahasiswa dari rumpun ilmu keislaman dalam kompetisi riset, inovasi, dan teknologi tingkat dunia, yang merupakan bagian dari rangkaian 37th International Invention, Innovation & Technology Competition & Exhibition (ITEX) 2026.
Dalam kompetisi tersebut, Mashduqi membawakan inovasi bertajuk ‘Recolora Textile Dyes’, yaitu pewarna tekstil ramah lingkungan yang dibuat dari rejected fruit atau buah yang sudah terlalu matang dan tidak lagi layak dijual di supermarket, seperti buah naga, mangga, dan alpukat.
“Alasannya saya membuat ini karena zaman sekarang pewarna pakaian jarang menggunakan buah rejected,” ujarnya, Sabtu (30/5/2026).
Ajang WYIE 2026 diikuti lebih dari 700 tim dari sekitar 120 negara. Peserta berasal dari berbagai negara seperti Malaysia, Thailand, Indonesia, Filipina, Korea Selatan, Arab Saudi, Turki, dan negara lainnya. Dari Indonesia sendiri terdapat lebih dari 50 tim yang berpartisipasi.
Mashduqi menjelaskan, sebelum tampil di Malaysia, seluruh peserta harus melalui proses seleksi yang cukup ketat. Mulai dari pengiriman proposal, poster, dan video presentasi kepada penyelenggara melalui sekolah atau universitas.
“Setelah lolos seleksi abstrak, baru diundang untuk presentasi langsung di KLCC Malaysia. Prosesnya ketat, soalnya yang mendaftar ribuan, tetapi yang diundang hanya inovasi yang dinilai orisinal dan berdampak,” tuturnya.
Bagi Mashduqi, medali emas yang diraih menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Ia mengaku haru, bangga, dan tak percaya saat namanya diumumkan sebagai peraih Gold Medal. Semua lelah dan kegagalan yang pernah terjadi berulang kali seakan terbayar dengan kemenangannya.
“Jujur campur aduk. Ini pertama kali saya mengikuti lomba internasional secara tatap muka. Saat nama tim disebut mendapatkan Gold Medal, saya langsung merinding. Yang paling membuat senang, bendera Indonesia bisa dilihat peserta dari berbagai negara. Itu momen yang nggak bakal saya lupain,” ujarnya.
Ketertarikan Mashduqi terhadap penelitian dan inovasi telah tumbuh sejak masih duduk di bangku SMA. Ia mengaku selalu tertarik mencari solusi dari berbagai persoalan yang ditemui di sekitarnya.
Mahasiswa asli Medan itu mengaku baru melakukan penelitian sebanyak dua kali. Penelitian pertamanya adalah terkait budaya, ragam ras dan suku di Indonesia. Saat itu, ia mengambil tema Batak dan mendapat sertifikat Awarded Asean.
“Saya senang banget meneliti. Rasanya seperti menemukan ‘mainan’ baru setiap ada masalah di sekitar,” ucapnya.
Rektor UINSU, Prof. Nurhayati, dalam keterangan tertulisnya mengatakan capaian tersebut menjadi kebanggaan bagi seluruh civitas akademika sekaligus memperkuat citra UINSU sebagai kampus yang mendorong integrasi nilai-nilai keislaman dengan pengembangan ilmu pengetahuan di tingkat internasional.
“Kita berharap capaian ini menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berkarya, berinovasi, dan membawa nama baik universitas hingga ke tingkat global,” ujarnya.
Senada dengan itu, Dekan FUSI, Maraimbang, menilai keberhasilan tersebut membuktikan bahwa mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir tidak hanya unggul dalam kajian keislaman, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata dalam dunia riset dan inovasi.
PREVIOUS ARTICLE
Tim Unpri Rumuskan ‘Paradox Strategy of Management’ dari Chongqing untuk Solusi Kota di IndonesiaNEXT ARTICLE
Ini Daftar Negara yang Warganya Gemar MenabungBERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER



















