Tim Unpri Rumuskan ‘Paradox Strategy of Management’ dari Chongqing untuk Solusi Kota di Indonesia

Tim pengabdian masyarakat internasional dari Unpri di Chongqing Cina. (foto: istimewa/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Tim pengabdian masyarakat internasional Universitas Prima Indonesia (Unpri) merumuskan konsep “Paradox Strategy of Management” setelah melakukan kolaborasi akademik dan observasi lapangan di Chongqing, China, pada pertengahan Mei 2026.
Konsep tersebut menitikberatkan pada pendekatan kreatif dalam mengubah keterbatasan dan tantangan ekstrem menjadi solusi yang berdampak positif bagi masyarakat.
Program ini dijalankan bersama Yangtze Normal University dengan melibatkan 14 akademisi Unpri yang dipimpin Prof Bhakti Alamsyah. Tim terdiri dari Bayu Pratomo, Fajar Rezeki Ananda Lubis, Tiarnida Nababan, Elly Romy, Jholant Bringg Luck Sinaga, Kristina Lestari Silalahi, Debora Paninsari, Purnama Yanti Purba, Elfina Damanik, Andrian, Windania Purba, Friska Ria Sitorus, dan Hengki Mangiring Parulian Simarmata.
Dari kegiatan tersebut, tim menyusun tiga naskah strategis pengabdian masyarakat yang mengadaptasi kearifan lokal, teknologi humanis, dan tata ruang inklusif Chongqing guna mendukung pembangunan berkelanjutan di Indonesia, khususnya Sumatera Utara.
Salah satu gagasan yang menjadi sorotan adalah model pertanian vertikal berbasis komunitas di kawasan lereng bukit Chongqing. Melalui konsep vertical farming sederhana berbasis masyarakat, keterbatasan lahan di kawasan padat penduduk diubah menjadi sumber pangan berkelanjutan.
“Paradoksnya adalah ketika orang melihat ketiadaan ruang, komunitas di Chongqing justru menciptakan kearifan untuk bercocok tanam,” ujar Bhakti dalam keterangan tertulis, Jumat (29/5/2026).
Menurut tim, pendekatan tersebut relevan diterapkan di kota-kota berbukit di Indonesia karena mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan ekonomi rumah tangga dengan potensi penghematan belanja hingga 15–25 persen.
Selain itu, tim juga merancang konsep “Destinasi Wellness Tourism Royal Prima: Integrasi Kuno-Modern untuk Kebugaran Holistik” berbasis layanan kesehatan terpadu melalui Rumah Sakit Royal Prima Medan.
“Model ini terinspirasi dari keberhasilan ‘TCM Health Tourism’ di Chongqing yang memadukan Traditional Chinese Medicine dengan sektor pariwisata modern,” katanya.
Melalui konsep tersebut, Unpri merancang paket wisata kebugaran yang menggabungkan kearifan lokal masyarakat Batak, Melayu, dan Tionghoa dengan fasilitas medis modern. Program itu juga dilengkapi peta jalan implementasi selama tiga tahun untuk memperkuat posisi Medan sebagai destinasi wisata kesehatan regional dan internasional.
Naskah ketiga menyoroti pengembangan ekonomi koridor berbasis transportasi publik. Tim mengkaji bagaimana simpul transportasi massal seperti LRT dan BRT di Chongqing tidak hanya berfungsi sebagai pusat mobilitas, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat.
Dari hasil kajian itu, tim merumuskan model “Integrated Corridor Micro-Economy” (ICME) yang mendorong konsep Transit-Oriented Development (TOD) inklusif. Dalam konsep tersebut, halte dan stasiun transportasi dirancang sebagai pusat perdagangan mikro yang memberi ruang bagi UMKM dan pedagang kecil.
“Paradoks strategi di sini adalah menjadikan koridor mobilitas yang sibuk dan transien sebagai fondasi untuk menciptakan komunitas ekonomi yang stabil dan permanen di sekitar kawasan transit,” ucapnya.
Menurut tim, temuan tersebut sangat relevan diterapkan di kota-kota besar Indonesia yang tengah membangun infrastruktur transportasi massal, agar pembangunan ekonomi dapat berlangsung lebih inklusif dan berkelanjutan.
BERITA TERPOPULER






















